{1st Scene} —Ironic’s Love

Ironics Love 4 copy

{1st Scene} Ironic’s Love

By Yaumila

 

| Main cast Kang Yumi (OC) – Oh Sehun |

| Support cast Kris Wu – Kang Jaemi(OC) – And other’s |

| Genre Marriage Life, Sad Romance | Length Chaptered |

| Rating PG-17 |

 

Disclaimer :

All of story is mine. So, don’t be plagiarism!

Copy-Paste not allowed!

(Karena satu dan lain hal main cast aku ganti. Semoga tetep suka ya)

.

.

.

 

Hari sudah menjelang sore saat seorang gadis baru menyelesaikan mata kuliah terakhirnya. Kang Yumi, ia kini sedang berjalan di koridor seorang diri. Temannya—Lee Hyunra pulang terlebih dulu meninggalkannya karena harus menemani Ibunya berbelanja. Niat awalnya ingin mengajak Hyunra untuk mampir ke sebuah café pupus sudah karena gangguan dari Ibunya. Menyebalkan memang.

“Bahkan disaat seperti ini pun ia tidak bisa menemaniku. Untuk sekedar menjemputku saja tidak bisa. Memang apa yang sedang ia lakukan?” Yumi memegang handphonenya erat-erat seperti ingin menghancurkannya—meskipun itu hal mustahil. Setelah lama berkutat dengan handphonenya malah membuat ia semakin kesal.

Kris, kekasihnya itu sangat sibuk akhir-akhir ini. Entah sibuk karena apa. Yumi tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar bertanya apa yang sedang dilakukan kekasihnya itu. Yumi percaya bahwa Kris benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Mereka sudah menjalin hubungan selama satu setengah tahun. Waktu yang cukup lama untuk saling percaya bukan?

Sambil berjalan, Yumi merenungkan sikap Kris yang sedikit berbeda. Dan itu agak mengganggunya. Entahlah, ia merasa perubahan pada Kris terlalu kontras untuknya. Mungkin ini juga salahnya, belakangan ini ia jarang sekali menghubungi Kris karena waktunya tersita untuk mengerjakan tugas dan ujian. Itu wajar karena mengingat ia adalah seorang mahasiswi tingkat 7. Ia tidak bisa sesantai dulu karena ujian kelulusan sudah ada di depan matanya. Mungkin ia harus sedikit mengalah dan mengajak Kris untuk membicarakan masalah mereka berdua. Ia tidak ingin hubungannya menggantung seperti ini.

Ketika Yumi sibuk dengan pikirannya sendiri, ia merasakan sesuatu yang basah menempel di pipinya. Dan ia sudah terlalu hafal siapa yang telah melakukan itu.

“Oh Sehun! Jika kau masih menciumku secara tiba-tiba aku bersumpah akan membunuhmu!” Yumi memukuli pria yang suka menciumnya seenaknya itu dengan membabi buta.

“Sehun? Jadi ia sering menciummu secara tiba-tiba?” Suara bariton yang terkesan dingin itu otomatis menghentikan semua pergerakan Yumi.

“O-Oppa? Bukankah tadi kau bilang sedang sibuk dan tidak bisa menjemputku?” Melihat wajah dingin kekasihnya membuat Yumi tergagap. Apalagi pandangan matanya yang tajam, membuatnya merasa takut dan bersalah sekaligus. Bagaimana bisa ia memanggil kekasihnya dengan nama pria lain? Rasanya Yumi ingin sekali menampar bibirnya.

Tanpa sepengetahuan mereka seorang pria tengah memandang lekat ke arah mereka dari dalam mobilnya.

***

Sudah satu jam Yumi dan Kris duduk di dalam café yang tidak jauh dari kampus. Namun hanya kebisuan yang menemani mereka. Seharusnya suasananya tidak akan secanggung ini mengingat mereka sudah berpacaran lebih dari satu tahun. Mereka hanya duduk berhadapan sambil menatap gelas yang ada di atas meja. Seolah-olah mereka adalah orang yang baru saja bertemu. Yumi menunggu Kris dengan sia-sia, berharap pria itu akan membuka pembicaraan diantara mereka.

“Apa terjadi sesuatu? Kau tidak tampak seperti biasa.” Yumi yang mulai jengah menunggu akhirnya menanyakan apa yang sedang mengganggunya belakangan ini.

“Tidak terjadi apapun dan aku masih seperti biasa Yumi.” Oh, apanya yang masih seperti biasa? Bahkan ia sudah tidak memanggil Yumi dengan sebutan ‘sayang’. Yumi hanya tersenyum miris mendengar penuturan pria di hadapannya ini.

“Benarkah? Tidak masalah jika kau tidak ingin membicarakannya denganku, Oppa.” Sejenak ada perasaan aneh yang singgah di hatinya saat ia memanggil Kris dengan sebutan Oppa. Padahal satu jam sebelumnya ia merasa tidak ada yang janggal dengan sebutan itu. Namun sekarang?

“Kenapa nada bicaramu seperti itu? Kau tidak mempercayaiku? Aku hanya sibuk Yumi, tidak ada apapun.” Oke, Yumi mulai merasa benci dengan suasana di sekeliling mereka yang mulai memanas.

“Aku tidak bilang jika aku tidak mempercayaimu, Oppa. Kenapa kau marah padaku? Seharusnya jika kau memang benar-benar sibuk kau tidak perlu marah seperti tadi. Dengan cara bicaramu yang seperti itu, aku jadi mulai ragu padamu.” Jangan salahkan Yumi jika ia berkata demikian. Sungguh, Yumi tidak menaruh rasa curiga atau apapun itu terhadap Kris. Namun melihat Kris seperti itu malah memancing keraguan di dalam dirinya. Mungkinkah Kris sesungguhnya tidak sibuk dengan pekerjaannya? Itulah yang dipikirkan Yumi saat ini.

“Baik, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh. Lupakan saja perkataanku tadi.” Diam-diam Kris dihinggapi perasaan gelisah dan tanpa sadar meremas kedua tangannya. Harusnya ia bisa bersikap normal di hadapan gadis itu. Sedangkan Yumi hanya memandang datar ke arahnya.

“Aku bahkan sudah membayangkan jika kita akan menikmati waktu bersama dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Kenapa kita hanya berakhir di tempat ini?” Yumi menundukan wajahnya agar tidak terlihat oleh Kris. Kecewa? Pasti, namun sebisa mungkin ia tidak menunjukkannya. Karena itu hanya akan memperkeruh suasana diantara mereka. Saat Kris datang tiba-tiba di kampusnya tadi membuatnya sangat  senang. Ia berpikir Kris sengaja membuatnya terkejut dan akan mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat seperti yang dulu mereka lakukan. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Selama di dalam mobil mereka hanya membisu. Dan Yumi semakin kecewa karena Kris hanya mengajaknya duduk di sebuah café.

“Memang apa yang kau harapkan saat aku menjemputmu? Aku sudah berusaha meluangkan waktu untuk menemuimu. Jadi jangan terlalu mengharapkan apapun padaku.” Demi tuhan Yumi sangat sakit mendengar perkataan Kris. Apa salahnya mengharapkan hal seperti itu kepada kekasihnya sendiri? Melihat wajah datar Kris semakin membuat hatinya sakit. Yumi tidak tahu apakah pria itu sadar atau tidak jika kata-katanya tadi terlalu menusuk untuknya.

“Ya, bodohnya aku berharap seperti itu. Dan maaf sudah membuatmu membuang waktumu yang sangat berharga itu hanya untuk sekedar duduk di hadapanku.” Mata gadis itu mulai memanas, ia bahkan nyaris tidak bisa menahannya agar tidak jatuh. Ia berubah. Perubahan Kris benar-benar nyata di depan matanya.

“Kenapa kau berbicara seperti itu Yumi? Jangan kekanakan, mengertilah keadaanku.” Kris menyandarkan punggunya dan menghembuskan nafasnya kasar.

“Sudahlah, aku lelah. Aku bahkan terlalu lelah untuk membalas ucapanmu yang sangat menyakitkan itu.” Yumi langsung berdiri dari kursinya dan berjalan dengan cepat keluar café. Ia ingin pergi sejauh mungkin dari jangkauan Kris. Awalnya ia ingin memperbaiki keadaannya dengan Kris, namun kenapa menjadi seperti ini? Menjadi semakin parah dari sebelumnya. Sementara itu Kris mengacak rambutnya frustasi. Melukai perasaan Yumi tidak ada dalam agendanya, dan itu sukses membuatnya merasa bersalah. Apalagi jika mengingat perbuatan yang telah ia lakukan di belakang gadis itu semakin menambah rasa bersalahnya saja.

“Tolong maafkan aku, Yumi.”

***

Sehun masih setia menunggu di dalam mobilnya. Ia sudah terlampau sering melakukan hal ini. Menunggu gadis yang ia cintai bersama dengan kekasihnya, tragis. Ya, Sehun mengikuti Yumi dan Kris hingga kemari. Tadinya ia ingin menjemput Yumi seusai bekerja, namun Kris selalu berhasil mendahului langkahnya. Alhasil ia hanya bisa mengikuti mereka dari belakang. Katakanlah ia gila karena begitu mencintai gadis yang sudah memiliki kekasih. Namun itu bukan masalah besar untuk Sehun. Selama mereka belum menikah, ia akan terus menunggu gadis itu untuk melihat ke arahnya. Entah sampai kapan.

Awal pertemuannya dengan Yumi adalah ketika ia dan keluarganya baru pindah rumah. Dan rumahnya persis berada di hadapan rumah gadis itu, Kang Yumi. Sehun dan keluarganya mengunjungi rumah Yumi untuk sebatas tatakrama karena mereka kini bertetangga. Anggota keluarga Yumi terdiri dari empat orang yaitu Ayah, Ibu, Kang Yumi dan juga adiknya Kang Jaemi. Saat pertemuan pertama mereka Sehun tidak merasakan kesan yang berarti terhadap gadis itu. Namun saat mengenalnya membuat Sehun mengerti akan segala sifatnya. Dan itu sudah terhitung selama 3 tahun mereka saling mengenal hingga saat ini. Dan usia Sehun terpaut 4 tahun lebih tua dari Yumi.

Bisa mengenal Yumi adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Sehun. Yumi adalah tipikal gadis yang acuh namun sangat peka dengan keadaan sekitarnya. Sehun sangat suka saat melihat ekspresi kesal Yumi ketika ia menjahilinya. Sehun yang sangat gemas melihatnya sering mencuri ciuman gadis itu. Hanya sebatas pipi, tentu saja. Sehun takut jika gadis itu akan menamparnya jika ia melakukan hal yang lebih. Seperti mencium bibirnya misalnya. Meskipun Sehun sangat ingin melakukannya tapi ia berusaha untuk menahannya sebisa mungkin. Ia tidak ingin dianggap sebagai pria kurang ajar.

Namun saat itu pun tiba, saat Yumi mengenalkan seorang pria padanya yang ia sebut sebagai kekasihnya. Kris. Ketika ia melihat Yumi bersama dengan Kris membuatnya agak gusar. Pernah tanpa sengaja ia melihat Yumi dan Kris sedang berciuman saat ia pulang dari kantornya. Melihat kejadian itu membuat perasaan Sehun menjadi, sakit. Ia tidak begitu yakin jika hatinya merasa sakit saat melihat itu. Namun melihat kejadian yang serupa beberapa kali membuat hatinya semakin meradang. Dan saat itu ia baru menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada gadis itu tanpa disadarinya.

Sehun berusaha keras untuk menutupi perasaannya kepada Yumi—bahkan berusaha untuk menghilangkannya. Bagaimanapun ia sudah memiliki kekasih. Sehun masih terlalu waras untuk menghancurkan hubungan orang lain. Sekeras apapun ia berusaha menghilangkan perasaannya, Sehun selalu gagal. Dampak buruknya justru perasaan itu tumbuh semakin berkembang. Jadi ia putuskan untuk menunggu dan menjaganya dari jauh.

Sehun tersadar dari lamunannya ketika melihat Yumi keluar dari café dengan tergesa-gesa. Gadis itu berjalan sambil menunduk sehingga ia beberapa kali menabrak orang-orang yang ada disekitarnya. Sehun dengan tanggap mengikutinya sambil melajukan mobilnya dengan pelan. Kemana perginya Kris? Kenapa mereka tidak keluar bersama? Berbagai pertanyaan muncul bergiliran di dalam kepalanya.

Gadis itu—Yumi berjalan seperti orang linglung. Ia hanya mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Tanpa sadar ia berjalan memasuki kawasan taman yang sudah sepi. Hanya segelintir orang yang masih berada di taman itu. Ia memutuskan untuk duduk di bawah sebuah pohon yang cukup rindang. Udaranya yang sejuk membuat pikiran Yumi sedikit tenang. Pertengkarannya dengan Kris yang begitu tiba-tiba itu membuatnya sedikit pusing. Apalagi sebelumnya ia baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosennya. Bertemu dengan Kris tidak membantunya untuk melepas lelah sama sekali.

Yumi berusaha menahan sesuatu yang akan jatuh dari kedua sudut matanya. Ia tidak ingin menangis, apalagi karena Kris. Terlalu menyedihkan untuknya jika menangis hanya karena seorang pria. Sekalipun itu kekasihnya sendiri. Gadis itu menerawang, seingatnya ia tak melakukan kesalahan yang mampu memancing kemarahan Kris. Lantas apa yang menyebabkan Kris menjadi seperti itu? Hingga cara bicaranya terhadap Yumi pun berubah, terkesan dingin dan acuh. Apakah ini pertanda jika Kris sudah mulai bosan menjalin hubungan dengannya? Jika iya, apa yang akan terjadi pada mereka kedepannya? Cintanya pada Kris sudah cukup dalam, ia tidak akan mampu jika harus berpisah dengannya. Apalagi tanpa alasan yang jelas seperti ini.

Sekuat apapun Yumi menahan air matanya, akhirnya butiran air itu turun juga dari sudut matanya. Bagaimanapun ia hanyalah seorang gadis yang sudah ditakdirkan untuk memiliki perasaan yang lemah. Mungkin tidak semua gadis seperti itu, tapi Yumi termasuk ke dalam gadis dengan tipe tersebut. Ia terlihat acuh dari luar, tapi ia adalah gadis yang rapuh. Orang mengira dirinya adalah gadis kuat hanya karena tidak pernah melihatnya menangis di hadapan mereka. Sehun yang memang sudah memantau gadis itu dari kejauhan memutuskan untuk mendekat. Yang mengejutkannya adalah fakta bahwa gadis itu kini sedang menangis. Menangis tertahan.

“Yumi, kau menangis? Apa terjadi sesuatu?” Sehun memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.

“Sehun? Bagaimana kau bisa berada di tempat ini?” Yumi tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya karena melihat Sehun yang sudah berada di sampingnya.

“Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu, aku lebih tua darimu. Panggil aku Oppa.” Sehun mendudukan dirinya di samping Yumi. Namun sepertinya gadis itu terlihat tidak ingin membalas ucapannya. Jadi ia memutuskan untuk ikut diam untuk sementara.

 “Kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang membuatmu menangis?” Sehun bertanya seolah ia tidak tahu apapun. Ya, ia memang tidak tahu apa yang sudah terjadi pada gadis ini. Namun ia yakin jika itu ada hubungannya dengan Kris.

Yumi terdiam, ia ragu jika harus menceritakan perihal masalahnya pada Sehun. Tapi disatu sisi ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Jadi haruskah ia menceritakannya pada Sehun? Tapi bagaimana tanggapan pria itu nanti setelah mendengar masalahnya?

“Sebenarnya bukan masalah yang serius. Aku hanya bertengkar dengan Kris, sesuatu yang wajar terjadi pada pasangan kekasih.” Tepat seperti dugaan Sehun, Yumi memang sedang bermasalah dengan Kris. Bolehkan ia merasa senang? Karena hanya disaat seperti inilah ia bisa bebas berdua dengan Yumi. Maaf jika aku bahagia di atas penderitaanmu Yumi.

“Benarkah? Tapi sepertinya tidak sesuai dengan yang sedang kau rasakan. Kau terlihat seperti orang yang sedang mengalami masalah berat.” Mungkin Sehun salah karena bertanya terlalu gamblang jika ia sangat ingin mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu—gadis yang dicintainya. Tapi siapa yang bisa menahan diri jika orang yang kalian cintai sedang mengalami masalah tepat di hadapan kalian? Sehun hanya takut jika Kris telah melukai Yumi, itu saja.

“Sudah kubilang bukan masalah besar Sehun. Perkataanmu itu terlalu menyudutkanku. Jangan terlalu ikut campur, aku bisa mengatasinya.” Sehun menggigit bibirnya sendiri karena ia sadar, ia sudah melewati batas. Ia hampir lepas kendali. Sampai detik ini ia terus berusaha menyembunyikan perasaannya agar gadis itu tidak tahu bahwa Sehun memiliki perasaan khusus untuknya. Bertahan disisi Yumi hanya dengan status sebagai seorang teman merupakan pengorbanan besar untuk Sehun.

“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya khawatir padamu, Yumi. Aku ingin membantu mengatasi masalahmu, karena itu aku ingin mengetahui apa yang terjadi diantara kalian. Aku sungguh minta maaf jika sudah ikut campur.” Sehun harus bisa mengontrol perkataan dan perilakunya jika ingin tetap mempertahankan keadaan ini. Ia tidak ingin jika Yumi merasa terganggu dengan kehadirannya lalu memutuskan untuk menjauhinya. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh Sehun sebelumnya. Dan itu terdengar sangat mengerikan.

Yumi menghela nafasnya perlahan-lahan. Seharusnya ia tahu diri. Sehun sudah berbaik hati ingin mendengarkannya, bahkan ia akan membantu menyelesaikan masalahnya. Pantaskah jika ia berbalik marah terhadap pria itu?

“Sudahlah, aku juga minta maaf karena sudah berkata kasar padamu. Kau yakin akan membantu mengatasi masalahku dan Kris Oppa?” Sehun iri setengah mati terhadap Kris hanya karena Yumi menanggilnya dengan embel-embel Oppa.

“Ya, aku akan membantu sebisaku. Jika kau mau.”

“Tadi kami bertengkar saat di café. Kedengarannya ini hanya masalah sepele, namun ternyata tidak sesederhana itu. Belakangan ini kami jarang berkomunikasi, apalagi bertemu. Ketika kami bertemu aku merasa ada yang lain dengan Kris Oppa. Dan ya, kami bertengkar begitu saja. Apa menurutmu itu wajar Sehun?” Yumi menghela nafasnya lemah setelah menceritakan permasalahannya pada Sehun dengan singkat.

“Menurutku itu masih dalam batas wajar jika kalian suka bertengkar kecil. Kau bilang ada yang lain dengan Kris, apa itu? Atau mungkin itu hanya perasaanmu saja.” Sehun mencoba bersikap seperti biasa. Saat ini ia sedang berperan sebagai teman Yumi. Ya, jadi ia harus bersikap selayaknya seorang teman.

“Ia memang berbeda Sehun, bukan sekedar perasaanku saja. Dari cara bicaranya bahkan hingga panggilannya untukku pun berubah. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.” Yumi menyembunyikan wajahnya pada kedua telapak tangannya.

“Harusnya kau menyikapinya dengan kepala dingin. Lalu apa yang kau lakukan ketika kalian bertengkar?” Sehun mengganti posisinya dan menghadap ke arah Yumi.

“Emosiku terpancing, jadi aku balas memarahinya. Setelah itu aku pergi.”

“Seharusnya kau tetap berada disana dan mendengar penjelasannya, Yumi. Mengapa kau pergi begitu saja?” Sehun berkata selembut mungkin agar tidak terkesan menggurui.

“Jadi ini salahku, begitu?” Yumi menatap Sehun dengan pandangan tidak suka.

“Aku tidak bilang ini salahmu, bodoh. Jika kau tidak pergi begitu saja mungkin masalahnya tidak akan serumit ini. Bicarakanlah masalah kalian secara baik-baik.” Yumi menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Sehun meskipun ia sangat enggan. Namun hubungannya tidak akan pernah membaik jika salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah.

“Baiklah, aku mengerti. Sepertinya aku harus bertemu kembali dengan Kris Oppa untuk membicarakannya.” Yumi tersenyum lega dan bangkit dari duduknya.

“Terima kasih Sehun, ternyata nasihatmu cukup membantu. Sampai kapan kau duduk disana? Cepat antar aku pulang.”

Dalam hati Sehun merutuki kebodohannya. Seharusnya ia biarkan saja Yumi bertengkar dengan Kris. Namun ia tidak sekejam itu. Yang bisa ia lakukan hanya pasrah kepada takdir.

***

Ini adalah hari ketiga setelah insiden pertengkarannya dengan Kris. Tidak seperti waktu lalu, kini Kris cukup mudah untuk dihubungi. Meskipun masih jarang. Setidaknya Yumi sudah berusaha menjalin kembali komunikasi diantara mereka. Hari sabtu ini ia putuskan untuk menikmatinya bersama dengan Hyunra. Mereka sedang berjalan mengelilingi maal yang ada di pusat kota. Yumi dan Hyunra masing-masing sudah membawa belanjaan mereka. Tidak banyak memang, namun setidaknya mereka sudah menemukan barang yang mereka incar.

“Ah, akhirnya aku mendapatkan gaun keluaran tebaru dari butik Ms. Jung. Tugas kuliah membuatku hampir gila, aku bahkan tidak sempat untuk memanjakan diriku di salon.”

“Bukan hanya kau saja yang merasa tertekan dengan tugas kita Hyunra, aku pun begitu. Tapi aku sangat bersyukur akhirnya kita memiliki waktu luang untuk refreshing. Ternyata dosen kita tidak sejahat itu. Kupikir mereka akan membuat kita cepat mati dengan memberikan tugas yang luar biasa banyak.” Yumi dan Hyunra saling bertukar tawa. Hal yang paling menyenangkan memang menghabiskan hari libur bersama seorang teman. Mereka terus berbincang sambil sesekali memasuki toko yang menarik perhatian mereka.

“Ada apa Hyunra? Jangan berhenti secara tiba-tiba.” Yumi yang memang sedang berjalan di belakang harus menabrak bahu Hyunra karena gadis itu berhenti mendadak.

“Yumi lihatlah, bukankah itu Kris Oppa? Sedang apa ia disini? Oh ia bersama dengan seorang gadis.” Yumi mengikuti arah tangan Hyunra yang sedang menunjuk ke satu arah. Itu memang Kris, tidak salah lagi. Tapi ia bersama gadis lain, siapa dia? Dan sial bagi Yumi karena ia tidak bisa melihat wajah gadis itu.

“Kau tahu gadis itu Yumi?” Hyunra menatap was-was ke arah Yumi. Ia ingin mendengar jika Yumi mengetahui gadis yang sedang bersama kekasihnya—Kris. Agar segala persepsi buruk tentang Kris segera hilang dari pikirannya. Namun Hyunra mencelos saat ia mendapat gelengan dari Yumi, pertanda ia pun tidak mengetahui gadis itu.

***

Hari ini tidak seberat hari-hari sebelumnya karena Yumi tidak mendapat tugas apapun dari dosennya. Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore saat ia keluar dari kampusnya. Ia kini menuju apartemen Kris karena pria itu memintanya untuk datang. Ya, akhirnya mereka bisa bertemu kembali. Yumi terlihat bersemangat untuk bertemu dengan kekasihnya. Perasaannya sedang dalam kondisi yang baik hari ini. Yumi bahkan hampir melupakan kejadian dimana saat ia dan Hyunra tanpa sengaja melihatnya sedang pergi bersama dengan seorang gadis. Namun Yumi tidak ingin menanggapi hal tersebut dengan serius. Mungkin saat itu Kris sedang pergi bersama dengan teman kantornya. Akhirnya Yumi memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut mengenai hal tersebut kepada Kris.

Perjalan dari kampusnya menuju apartemen Kris memakan waktu selama 40 menit dengan menggunakan taksi. Yumi sudah berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi yang di dalamnya berisi ruangan-ruangan mewah yang mereka sebut sebagai apartemen. Yumi memasuki gedung tersebut dengan langkah riang. Setelah berada di dalam lift Yumi menekan angka 11, lantai tempat tinggal Kris. Setelah beberapa waktu pintu lift terbuka, menandakan bahwa ia telah berada dilantai yang ia tuju. Yumi melangkahkan kakinya perlahan. Ia berhenti di depan pintu yang bertuliskan angka 247. Pintu tersebut tebuka setelah Yumi menekan bel sebanyak dua kali.

“Kau sudah datang, ayo masuk.” Kris membuka pintunya lebar-lebar, mempersilahkan Yumi untuk memasuki apartemennya.

“Ada apa Oppa? Tidak biasanya kau menyuruhku datang kesini.”

“Duduklah dulu, kau baru saja tiba. Ingin minum sesuatu?” Kris menuntun Yumi untuk susuk di sofanya. Ia menyampirkan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya secara asal. Ya, Kris baru selesai mandi.

“Aku ingin soda.” Yumi tersenyum memandangi Kris yang berlalu menuju dapur. Ia menatap sekelilingnya, tidak ada yang berubah dari tempat ini.

“Ini, minumlah.” Kris meletakkan segelas soda di hadapan Yumi. Kemudian Kris duduk tepat di sampingnya. Yumi sedikit berdebar karena jaraknya dan Kris telalu dekat. Tangannya bahkan ikut bergetar saat ia ingin mengambil gelas yang di letakan Kris di atas meja. Kris yang menyadari hal itu tersenyum tipis.

“Tanganmu bergetar, kau gugup?” Kris menyentuh salah saatu tangan Yumi dan meremasnya perlahan.

“Ti-tidak, hanya saja kita sudah lama tidak sedekat ini. Itu membuatku agak canggung.” Yumi menatap kesana-kemari untuk menghilangkan kegugupannya. Ia memandang kemanapun, asal tidak memandang Kris.

“Benarkah? Apa bedanya dengan gugup?”

“Oppa!” Yumi merengut kesal. Tebakan Kris memang benar, dan itu membuatnya malu. Yumi memilih untuk marah untuk menghilangkan perasaan gugupnya.

“Aku hanya bercanda, tidak usah merengut seperti itu. Aku memintamu kemari karena aku juga ingin meminta maaf atas ucapanku waktu itu. Aku sangat menyesal.” Kris memutar tubuh Yumi agar menghadap ke arahnya. Ia terlihat benar-benar menyesali perbuatannya.

“Aku memaafkanmu Oppa, lagi pula itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Maaf atas sikapku yang kekanak-kanakan.” Yumi mengusap tangan Kris yang berada di bahunya. Mereka saling melempar senyum, pertanda mereka sudah mengakhiri pertengkaran itu.

Tangan Kris yang semula berada di bahu Yumi berpindah menuju tengkuk gadis itu. Ia perlahan mendekatkan wajahnya. Kris mulai mengerakan bibirnya begitu ia berhasil menjangkau bibir Yumi. Ia memberikan lumatan-lumatan kecil pada bibir Yumi dan menarik gadis itu mendekat hingga kini berpindah ke atas pangkuannya. Ciuman mereka semakin dalam dan bergairah saat Kris mulai menyelipkan lidahnya diantara bibir Yumi. Ia langsung membelit lidah Yumi saat milik mereka bertemu. Yumi memeluk leher Kris dengan erat saat pria itu menghisap lidahnya.

“Enghhh…” Suara desahan itu lolos dari bibir Yumi tanpa bisa dicegah. Yumi mendorong bahu Kris saat ia merasa bahwa tindakan mereka kana membawanya kedalam kegiatan yang lebih jauh dari ini. Selain itu persediaan oksigennya pun sudah menipis. Yumi menghirup nafas dalam-dalam saat tautan mereka terlepas. Yumi mencoba untuk turun dari pangkuan Kris, namun pria itu menahannya. Ia menghempaskan tubuh Yumi ke atas sofa yang sedang mereka duduki dan menindihnya.

“Oppa, kau mau apa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Yumi, Kris kembali menyatukan tautan mereka yang sempat terlepas. Yumi mencengkram bahu Kris saat merasakan tangan pria itu mulai nakal menggerayangi tubuhnya.

“Oppa, hentikan!” Yumi mendorong Kris saat merasakan remasan di dadanya. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Kris saat ini sedang diliputi nafsu, terlihat dengan jelas pada kedua matanya yang memancarkan gairah. Yumi terpaksa menendang milik Kris karena ia tidak mau menghentikan aksinya.

“Akh, kenapa kau menendangku?!” Kris terlihat sangat marah dengan tidakan Yumi. Ia memegangi miliknya yang berdenyut nyeri karena tendangan Yumi.

“Kita sudah bertindak telalu jauh Oppa, aku tidak ingin melakukannya.” Yumi berkata dengan pelan sambil berusaha mengontrol nafasnya.

“Kita sudah berpacaran lebih dari satu tahun, Yumi. Mengapa kau selalu melarangku untuk menyentuhmu?! Apa kau tidak mencintaiku?”

“Tentu aku sangat mencintaimu Oppa, aku hanya tidak ingin melakukannya.”

“Jika kau memang mencintaiku maka jadilah milikku seutuhnya. Dan biarkan aku menyentuhmu.” Belum sempat Yumi membalas kata-kata Kris, pria itu sudah menariknya lebih dulu dan memagut bibirnya dengan kasar. Yumi kembali mendorong tubuh Kris dan menamparnya dengan keras. Hingga menimbulkan bunyi.

“Oppa jika seperti ini kau terlihat seperti akan memperkosaku.” Yumi mulai melangkah mundur menghindari Kris. Sementara pria itu menatapnya dengan marah sambil memegangi pipinya. Tamparan Yumi cukup keras hingga membuat pipinya terasa perih.

“Kau tidak tulus mencintaiku bukan? Kenapa kau tidak ingin aku menyentuhmu!” kris mencoba mendekat, namun Yumi langsung mengambil langkah mundur.

“Oppa, seharusnya jika kau mencintaiku kau tidak akan memaksaku untuk melakukannya. Kau terlihat hanya menginginkan tubuhku saja.” Yumi mulai merasakan matanya memanas, air mata sudah mulai menggenangi kedua matanya.

“Ya, aku memang hanya menginginkan tubuhmu. Aku sudah menunggu setahun lebih namun kau tidak kunjung menyerahkan tubuhmu itu.”

“Hentikan! Jangan berbicara seperti itu. mana mungkin kau berpacaran denganku setahun lebih hanya untuk mengincar tubuhku saja.” Yumi menggelengkan kepalanya sambil menutup telinganya menggunakan tangan.

“Aku ingin sekali menyangkal, namun semua itu benar adanya. Sejak awal aku memang hanya mengincar tubuhmu, Yumi. Tidak ada cinta untukmu.” Kris berbicara dengan tenang sambil mendudukan dirinya di sofa. Sementara Yumi terlihat memaku di tempatnya setelah mendengar pengakuan langsung dari mulut Kris. Ia tidak ingin percaya, namun jika Kris sendiri yang mengakuinya ia bisa apa?

“Kau, dasar kau pria brengsek! Kita akhiri saja hubungan ini!” Yumi melempar apapun yang ada di dekatnya ke arah Kris. Tapi tak ada satu pun yang berhasil mengenainya karena barang-barang itu melenceng jauh dari tempat Kris berada. Sehingga ia tidak perlu repot untuk menghindar.

“Ya, kita akhiri saja semuanya. Lagi pula aku sudah menemukan gadis yang bersedia memberikan tubuhnya untukku, dan kau sangat mengenal siapa gadis itu.” Yumi yang semula sudah beranjak untuk keluar terhenti ketika mendengar penuturan Kris.

Ia sudah menemukan penggantinya? Secepat itu? Dan yang lebih parah aku bahkan mengenal gadis barunya?

 

.

.

.

_Ironic’s Love_

TBC

 

 

 

Hallo semuanya, aku udah nepatin janjikan bakal bawa FF baru heheh.

Karena sesuatu main cast cewenya aku ganti, berbeda dengan teasernya.

Dan keputusan ini engga aku ambil sepihak kok, aku tanya sama beberapa reader yang waktu itu kebetulan lagi ON di twitter.

Gimana ceritanya? Absurd banget pasti ya T_T

Maaf kalau feelnya kurang atau apapun itu yang buat FF ini jelek, aku sengaja buat scene Sehun gak muncul terlalu banyak di part awal karena belum waktunya. Mungkin mulai part 2 sehun bakalan sering muncul.

Dan tolong komentarnya ya, FF ini mau tetep dilanjut apa engga.

Aku tunggu ya~~~

50 Comments

  1. kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    tapi krisnya jahat amat sih😦 tapi kasian ma sehun juga

    btw sorry kak aku baru ngeliat ff kakak🙂
    keep writing and cemungud🙂

    Like

    Reply

  2. anyyeong aku new reader aku suka banget sma fanfic ini soalnya alur ceritanya keren apalagi diperankan sama sehun,, sebenarnya aku lebih suka kalau cast ceweknya itu park jiyeon, tapi oc juga bagus kokk.. semangat yahhh author .. smoga capther 2nya cpet kelar

    fightingggggg

    Like

    Reply

Comment, comment~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s