{Epilogue} My Marriage Is…

MMI 1 copy

My Marriage is … [EPILOGUE]

Author Yaumila

 

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Lee Taemin  – Han Soyi (OC) – Choi Sulli – And other’s |

| Genre School Life, Marriage Life | Length Main Chapter |

| Rating PG-17 |

My Blog : https://yaumila.wordpress.com

 

Disclaimer :

All of story is mine. So, don’t be plagiarism!

.

.

.

 

Keadaan ruang tamu saat ini begitu hening. Sehun dan Jiyeon yang sedang berada di hadapan orang tua mereka hanya bisa diam tanpa mengucapkan apapun. Sungguh, yang Jiyeon inginkan hanya pergi dari tempat itu secepatnya. Keadaan seperti ini membuatnya tertekan. Ini akibat teriakannya yang tanpa sengaja terdengar oleh Ibu Sehun. Ya, ia mendengar tentang kehamilannya. Ia langsung menanyakan ini itu pada mereka dan segera menelpon orang tua Jiyeon.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan terhadap mereka berdua?” Tanya Ayah Sehun memecah keheningan.

“Entahlah, aku tidak pernah menduga bahwa kejadian seperti ini akan terjadi sebelumnya.” Ayah Jiyeon mendesah frustasi sambil memijat pelipisnya.

“Ah ini semua karena ulahmu, bukankah sudah kami peringatkan agar tidak melakukan apapun selama kalian masih sekolah huh?” Omel Ayah Sehun sambil menunjuk ke arah putranya. Ibu Sehun mencoba menenangkannya dengan mengusap punggung suaminya itu.

“Sudahlah, lagi pula ini salah kita sendiri yang membiarkan mereka berdua tidur sekamar. Meskipun kita sudah memperingatkannya sekalipun kejadian ini tidak bisa dihindari.” Meraka semua terdiam menyetujui ucapan Ayah Jiyeon.

“Aku ini normal, mana mungkin aku sekamar dengan seorang gadis tanpa melakukan apapun.” Jiyeon yang mendengar penuturan Sehun menatapnya dengan sengit. Oh Sehun sialan, kata-katamu tidak membantu sama sekali. Tapi Sehun hanya bersikap seolah-olah tidak melihat tatapan Jiyeon padanya.

“Tapi bagaimana dengan sekolahku? Apakah aku harus putus sekolah ditengah jalan padahal ujian kelulusan sudah beberapa bulan lagi.” Ya, yang paling mereka khawatirkan adalah nasib Jiyeon. Ia tidak mungkin kan ke sekolah dengan keadaan perut yang mulai membuncit. Itu akan menuai kontroversi di sekolahnya dan seluruh siswa akan menggunjingnya. Membayangkannya saja membuat Jiyeon merinding.

“Kau bisa home schooling Jiyeon-ah, tidak usah khawatir. Dan masalah lainnya biar kami yang mengatasinya. Kami akan membicarakan masalah ini dengan pihak sekolah. Meskipun kami akan ikut dimarahi karena menikahkan kalian diusia yang masih sangat muda. Aku tidak ingin mereka beranggapan buruk jika mengetahui Jiyeon sedang hamil tanpa tahu status hubungan mereka yang sesungguhnya.” Setidaknya perkataan Ayahnya sendiri membuat Jiyeon sedikit tenang untuk saat ini. Ya, hanya saat ini.

“Untuk sementara ini kau masih bisa bersekolah Jiyeon-ah, tunggu hingga kami mendapat keputusan dari Kepala Sekolah kalian.” Apa yang bisa dilakukan Jiyeon selain pasrah menerima keadaan? Yang bisa ia lakukan hanya menunggu.

“Lebih baik kalian segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Masih ada cukup waktu sebelum masuk.”

Benar juga, ini bukanlah hari libur. Dengan terpaksa mereka beranjak untuk bersiap. Entah mengapa mendengar kata sekolah membuat Jiyeon sangat muak. Dan tragisnya ia masih harus menjejakan kakinya di tempat yang ia anggap memuakan itu. Bahkan disaat kondisinya yang kini sudah tidak seperti dulu lagi—hamil.

 

***

 

Tawa nista Kai, Taemin dan Sulli menggelegar di penjuru kantin yang biasa mereka tampati setelah mendengar kabar tentang kehamilan Jiyeon dari Sehun. Sementara Soyi hanya menggelengkan kepalanya. Namun tak lama kemudian ia ikut tertawa bersama yang lain. Jiyeon yang saat ini sedang memperhatikan mereka merasa kesal bukan main. Teman macam apa mereka ini? Reaksinya benar-benar menyebalkan. Andai saja Jiyeon tidak menganggap mereka sebagai teman—bahkan sahabat mungkin ia sudah membunuh mereka semua disini, di tempat ini. Oke, mungkin itu hanya satu dari segelintir imajinasi berlebihan Jiyeon yang terdengar sangat menakutkan jika dilakukan oleh wanita yang tengah hamil.

“Sehun-ah, kau benar-benar hebat.”

“Tentu saja. Ya Kai, bahkan aku melakukannya kurang dari lima kali.” Mereka semua tertawa mendengar penuturan Sehun. Berbading terbalik dengan Jiyeon yang wajahnya sudah sangat memerah antara menahan malu dan kesal. Lantas ia langsung menginjak kaki Sehun.

“Ah! Kenapa kau menginjak kakiku?” Protes Sehun sambil memijat kakinya kan berdenyut nyeri. Wanita ini, kekuatannya semakin bertambah saja saat ia hamil.

“Diam kau!”

“Tapi selamat, kalian berdua akan menjadi orang tua. Ah, tapi aku tidak yakin kalian bisa merawat anak kalian kelak.” Ucapan Kai disambut oleh pukulan dari Sehun yang mendarat dengan sadis di kepalanya.

“Ya! Sakit bodoh!” Kai berusaha membalas perbuatan Sehun namun gagal.

“Ucapakan Kai memang ada benarnya. Bagaimana dengan anak kalian nanti jika memiliki Ayah seperti ini.” Taemin terlihat puas setelah berbicara seperti itu, tidak lupa dengan senyum menyebalkannya. Tanpa bisa dicegah Sehun memberikan pukulan yang lebih sadis ke kepala Taemin.

“Pantas saja akhir-akhir ini nafsu makanmu besar sekali. Ternyata kau makan banyak untuk penghuni lain di dalam perutmu. Selain cacing tentunya.” Jiyeon mendengus mendengar ucapan Soyi. Apa ia memang makan sebanyak itu?

***

 

Menginjak bulan pertama dan kedua masa kehamilannya, Jiyeon masih bisa bersekolah dengan normal. Namun ia memulai home schooling-nya saat menginjak bulan ketiga dimana ia mulai terkena morning sickness. Setiap pagi ia akan terbangun karena rasa mual, namun tak ada yang ia keluarkan dari dalam perutnya selain liurnya sendiri. Dan saat itu pula Sehun akan ikut terbangun dan membantu Jiyeon. Bagaimanapun karenanya Jiyeon hamil, dan sudah menjadi tugasnya untuk melakukan hal-hal semacam itu.

“Sehun-ah.” Pria itu menghela nafas saat Jiyeon mulai memanggilnya seperti tadi.

“Kau mau apa lagi?”

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan Sehun, “Sepulang sekolah nanti bawakan aku Greentea smoothie dan Chocolate cake ya. Saat ini aku sedang ingin makanan manis.”

“Baiklah, aku akan membawanya untukmu.” Sehun bernafas lega, setidaknya permintaan Jiyeon termasuk normal kali ini. Ia masih ingat dengan jelas saat Jiyeon meminta Sehun untuk mengusap perutnya sepanjang malam. Atau saat Jiyeon meminta Sehun membuatkan kimchi untuknya pada pukul 1 dini hari. Sehun bahkan membangunkan Ibunya untuk mengajarinya membuat kimchi karena Jiyeon ingin Sehun membuatnya sendiri. Dan kimchi tersebut baru selesai pukul 6 pagi karena Sehun melakukan banyak kesalahan saat membuatnya. Saat bisa menyelesaikannya Sehun senang bukan main, namun ia malah melihat Jiyeon yang masih terlelap di sofa dekat dapur. Kesal memang dirasakan Sehun karena merasa Jiyeon tidak menghargai usahanya. Tetapi kekesalannya hilang ketika ia melihat Jiyeon hampir menghabiskan kimchinya saat Sehun pergi ke dapur.

“Apa? Mau sesuatu yang lain?” Jiyeon seperti hendak mengatakan sesuatu namun ia terlihat ragu.

“Mmm, apa nanti kau bisa membawa Kai kemari?” Sehun mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Jiyeon.

“Untuk apa?”

“Aku ingin sekali memegang kepalanya, kau ajak Kai ya. Kumohon.” Jiyeon memasang wajah semelas yang ia bisa agar Sehun menuruti permintaanya seperti biasa.

“Tidak mau. Kau bisa menyentuh kepalaku, tapi tidak dengan Kai.” Oke, permintaan Jiyeon kali ini membuatnya sedikit cemburu. Sedikit, ingat?

“Aku ingin kepala Kai, bukan kepalamu.”

“Hah, memang kenapa dengan kepala Kai? Tidak bisakah kau menyetuh kepalaku saja?”

“Tidak bisa, aku hanya ingin kepala Kai.”

“Tidak mau, untuk kali ini aku tidak akan menuruti permintaanmu. Terserah jika kau tidak menginginkan kepalaku. Aku takut nantinya jika anak kita akan menjadi gelap seperti Kai.” Terdengar berlebihan memang, tapi sesungguhnya Sehun tidak sedang bergurau. Ia benar-benar takut jika anaknya akan seperti Kai jika ia mengikuti permintaan Jiyeon kali ini.

***

 

Sehun telah lulus dengan hasil yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ya, ia menjadi lulusan terbaik tahun ini. Ia berubah saat Jiyeon sedang mengandung anaknya. Ia bertekad untuk menjadi suami sekaligus Ayah yang bertanggung jawab. Tidak main-main seperti dulu.

Kehamilan Jiyeon sudah berada dipuncaknya, dibulan kesembilan. Hanya tinggal menghitung hari untuk menyambut kedatangan anggota keluarga mereka yang baru. Saat ini Jiyeon ditemani Sehun sedang duduk di balkon sambil minum teh. Udara sore hari membuat pikirannya tenang. Mereka memang sering melakukan hal seperti ini agar bayi yang ada di dalam perut Jiyeon tetap stabil. Jiyeon merasa sakit diperutnya namun ia tahan. Tapi rasa sakit itu tidak hilang malah semakin bertambah parah.

“Jiyeon-ah, kau baik-baik saja?” sehun terlihat panik saat Jiyeon menjatuhkan cangkirnya.

“Sakit. Sehun-ah, perutku sakit sekali. Aku tidak kuat.”

“Oh tidak, apa kau akan melahirkan? Siapa saja tolong aku, Jiyeon akan melahirkan!” Sehun berteriak seperti orang gila karena terlalu panik. Saat itu Ayah dan Ibunya langsung muncul dan segera membawa Jiyeon ke rumah sakit.

Ayah dan Ibu Sehun hanya bisa duduk di depan ruang operasi. Sementara Sehun ikut masuk ke dalam menemani Jiyeon yang akan melahirkan. Jiyeon masih mengalami kontraksi untuk bisa segera melahirkan anaknya. Ia memilih untuk melahirkan secara normal dibandingkan operasi Caesar.

“Jiyeon-ah, kau pasti bisa. Bertahanlah untuk anak kita, dan untukku.” Jiyeon hanya bisa mengerang, ia tidak sanggup berbicara bahkan hanya untuk menimpali ucapan Sehun.

Kontraksi yang dirasakannya semakin hebat. Jiyeon merasa akan mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya. Dalam satu tarikan nafas sebuah tonjolan kecil mulai terlihat diantara pahanya. Itu kepala bayinya. Dokter memberikan instruksi kepada Jiyeon agar bisa mengeluarkan bayinya. Dan tanpa sadar Sehun mengikuti setiap perintah dokter yang ditujukan kepada istrinya.

“Ayo nyonya sedikit lagi, berusahalah.” Jiyeon berusaha semaksimal mungkin, rasa sakit yang dialaminya sudah tidak tertahankan lagi. Dan saat ia diambang batas saat itu pula bayinya berhasil keluar dengan sempurna. Ia tersenyum mendengar suara tangisan bayi sebelum akhirnya ia memejamkan kedua matanya.

***

 

Sehun menggendong bayi mungil yang tidak lain adalah anaknya sendiri. Setelah menginap di dalam incubator selama satu hari akhirnya ia bisa menggendongnya. Ia dan Jiyeon dianugerahi seorang bayi laki-laki yang tampan. Tidak bermaksud sombong, tapi bayi itu tampan seperti Sehun—Ayahnya. Ia membawanya ke kamar inap Jiyeon. Jiyeon pingsan pasca melahirkan karena pendarahan. Dan ia sadar sebelum Sehun pergi untuk mengambil bayi mereka.

“Lihat siapa yang datang.” Jiyeon menoleh ke arah pintu dan ia melihat Sehun sedang menggendong bayi—bayinya dan Sehun. Orang tua merekapun terlihat gembira melihat sang cucu.

Jiyeon memandangi bayinya dengan tatapan tidak percaya, “Apa ini anak kita Sehun-ah?”

“Tentu saja Jiyeon-ah, kau berhasil melahirkannya.”

“Berikan ia pada Jiyeon, bayi kalian memerlukan ASI pertamanya.” Sehun langsung mendekat ke arah Jiyeon begitu mendengar perintah mertuanya. Jiyeon menerimanya dengan senang hati dan langsung menyusui bayinya. Perasaannya menjadi hangat, ternyata menjadi seorang Ibu sangat menyenangkan. Dan wajahnya sangat mirip dengan Sehun.

“Akhirnya kau datang di tengah keluarga kami, selamat datang. Kau tidak memberinya nama Sehun-ah?”

“Hmm, bagaimana jika Oh Hyun Gi? Hyun berarti kebijakan dan kehormatan, sedangkan Gi berarti keberanian. Aku ingin ingin anak kita tumbuh menjadi laki-laki yang bijaksana dan pemberani.” Jiyeon tersenyum mendengarnya.

“Oh Hyun Gi? Nama yang bagus.”

“Ia pasti akan tumbuh dengan cepat tanpa kita sadari.”

“Ya, kau benar Sehun-ah. Aku sudah bisa membayangkan jika kalian akan bermain dan menghancurkan rumah dengan kompak.” Sehun tertawa mendengar perkataan Jiyeon yang kemungkinan besar akan terjadi.

“Oleh karena itu, kau memerlukan anak perempuan untuk membantumu. Bagaimana jika kita segera memberikan adik untuk Hyun Gi?” Sehun mengerling nakal ke arah Jiyeon.

“Jangan bercanda Sehun-ah, aku baru melahirkan. Kau ingin membunuhku?”

“Membunuh apanya? Kegiatan saat kita membuat Hyun Gi sangat menyenangkan. Dan aku akan memuaskanmu saat kita membuatkan adik untuknya.” Wajah Jiyeon mulai memerah karena ucapan Sehun. Rasanya ia ingin sekali membunuh Sehun. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia pasti akan sangat menyesal jika benar-benar melakukannya.

“Baiklah, kita lihat saja nanti. Seberapa besar kemampuanmu untuk bisa memuaskanku.”

“Jangan menantangku, kupastikan kau akan menyesal. Aku bahkan bisa membuatmu terkapar di atas ranjang tanpa bisa bergerak sedikitpun.”

.

.

END

 

Huwaaa, akhirnya muncul juga Epilog dari cerita ini.

Masih ingat dengan FF-nya kan? Maaf lama banget update-nya.

Aku harus berjuang untuk mengumpulkan ide.

Maaf jika ceritanya kurang memuaskan ya T_T

Dan jangan lupa ucapkan selamat datang untuk Oh Hyun Gi😀

Oke, segitu aja cuap-cuapnya. Aku akan muncul lagi dengan FF baru haha😀

 

71 Comments

  1. Dasar sehun gara” cemburu ga mikir kalo imbasnya jiyeon yg susah,kl dy enak msh bisa sekolah smpe lulus..
    Tapi untungnya dy sadar dg mau nurutin semua keinginan jiyeon waktu ngidam,meskipun dy harus ngikhlasin jiyeon megang kepala kai..
    Wah sehun ada” aja baru jg jiyeon melahirkan udah ngajakin bikin adik buat hyun gi

    Like

    Reply

  2. dasar sehun mesum–“.

    aah, eonni~
    ceritanya seru bangett. coba aja ada sequel nya😀.
    smoga nnt klo udah besar anak nya ga kaya sehun.. haha :v

    Like

    Reply

  3. Sehun mesummm..
    masa mau ngelakuin ‘itu’ lagi padahal kan jiyeon baru melahirkan😀
    Author-nim ada sequel nya gk ini? Pingin tau kehidupan HunJi setelah ada kehadiran HyunGi..

    Like

    Reply

  4. Weeeeewww gk slah tuh?? Si jiyeon bru aja ngelahirin masa lngsung mau bikin lgi??? Huaaaa gila tuh pasangan -_- ckckck…
    Welcome to the world hyungi-ya😀 hhehhhehe
    Keren epilognya thor🙂

    Like

    Reply

  5. walah sehun oppa sama jiyeon eonni bru selesai melahirkan malah membicarakan hal aneh,
    aku setuju bngt eonni kalau ini ada season 2 cerita ini, soal.a cerita ini lucu bngt eonni . .
    ^^

    Like

    Reply

  6. akhirnyasehun ama jiyeon jadi org tua juga^^ jiyeon ngidamnya :v ,thor aku minta pw marriage is yang 7 dong….

    Like

    Reply

  7. Omo, ada epilognya ternyata.
    Dan apa banget ini pas jiyeon ngidam megang kepala kai, ‘aku ingin kepala kai, bukan kepalamu.’ Kkk aku malah ngerasa kepalanya mau dipennggal /plak/
    Tapii semoga nantinya hyungi ga item kaya kai ._.

    Like

    Reply

  8. Epilognya seruuu bangett!!
    Akhirnya Sehun sama Jiyeon jadi orang tua ciyeeee ^o^
    Sehun yadong banget masa ‘-‘
    Keep Writing ^_^

    Like

    Reply

Comment, comment~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s