[6th Scene] My Marriage Is…

my marriage is_true color

My Marriage is … [Part 6]

Author Yaumila

 

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Lee Taemin  – Han Soyi (OC) – Choi Sulli – And other’s |

| Genre Shool Life, Marriage Life | Length Main Chapter |

| Rating PG-17 |

Poster by : ©ARSVIO

 

 

Disclaimer :

Para tokoh yang ada di FF ini milik Tuhan. Cerita ini murni hasil imajinasi saya.

Happy Reading~~

 

.

.

.

 

Author POV

Han Soyi membelalakkan matanya bulat-bulat melihat pengantin yang sekarang tengah berdiri di hadapannya. Dan ternyata bukan hanya Soyi yang terkejut, kedua pengantin tersebut pun sama terkejutnya dengan Soyi. Terlebih sang pengantin wanita. Jiyeon. Soyi menatap Sehun dan Jiyeon secara bergantian. Ia masih tidak percaya dengan apa yang telah dilihat oleh matanya itu. Dan jangan lupakan wajah bodoh Soyi saat ini. Ia merasa terkejut, sedih, dan marah. Ia terkejut karena pesta yang ia hadiri adalah pesta pernikahan antara Sehun dan Jiyeon. Sedih karena pria yang ia sukai menikah dengan gadis lain. Dan ia merasa marah karena Jiyeon yang menjadi pengantin wanitanya. Kenapa harus Jiyeon? Apa tidak ada gadis lain selain Jiyeon? Soyi mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan segala rasa yang kini tengah bercampur aduk di dalam hatinya.

 

Sehun dan Jiyeon sama-sama tidak menyangka jika akan terjadi hal seperti ini. Tiba-tiba perasaan takut mulai menjalar di tubuh Jiyeon. Takut jika Soyi akan membeberkan masalah ini pada yang lain. Takut jika Soyi akan melaporkan mereka kepada pihak sekolah. Takut jika Soyi menyebarkan berita yang tidak-tidak tentang dirinya dan Sehun karena menikah secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan Jiyeon, Sehun memperhatikannya sejak tadi karena gelagat Jiyeon yang sangat terlihat kalau dia sedang gelisah saat ini karena kedatangan Soyi. Sehun pun merasakan hal yang sama, tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya dan bersikap biasa.

 

‘Tapi kenapa Jiyeon harus berlebihan seperti itu?’ pikir Sehun. Yang datang hanya seorang Han Soyi, bukan guru mereka jadi tidak perlu ada yang ditakuti. Sehun malah merasa senang dengan kedatangan Soyi. Jadi ia bisa bebas dari gadis yang menurutnya sangat menyebalkan itu dan suka menempel padanya. Tapi berbanding terbalik dengan apa yang akan terjadi dengan Jiyeon nantinya. Sehun tidak tahu apa saja yang telah dilakukan Soyi terhadap Jiyeon demi mendapatkan perhatian dan hati seorang Oh Sehun. Ya, Sehun tidak tahu. Sama sekali.

 

Ia melihat Jiyeon yang masih dalam keadaan terkejut, bahkan ia melihat ada sedikit rasa takut pada raut wajahnya. Sehun tidak mengerti kenapa Jiyeon hingga seperti itu. Tapi ia menggenggam tangan Jiyeon dan berusaha menenangkannya. Jiyeon membalas genggaman tangannya dengan sangat erat seolah sedang mencurahkan apa yang sedang ia rasakan saat ini.

 

“Jadi kalian benar-benar menikah?” tanya Soyi memecah keheningan diantara mereka.

 

“Tentu saja, kau kira ini hanya main-main?” Sehun menjawabnya dengan dingin. Soyi yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecut atas reaksi yang diberikan Sehun.

 

“Kenapa tiba-tiba sekali?” lanjutnya yang masih belum puas dengan jawaban Sehun.

 

“Kurasa itu bukan urusanmu. Kau datang ke mari sebagai tamu, jadi bersikaplah layaknya seorang tamu. Tidak perlu menanyakan hal-hal yang tidak ada kaitannya denganmu,” setelah mengatakan hal itu Sehun menarik tangan Jiyeon untuk menemui tamu yang belum mereka salami. Sementara Soyi hanya diam mematung di tempatnya. Hatinya cukup sakit mendengar penuturan yang keluar dari mulut Sehun. Bagaimanapun ia menyukai pria itu, gadis mana yang tidak sakit jika diperlakukan dingin oleh orang yang disukainya?

 

Soyi yang bersusah payah mengembalikan keadaan hatinya mulai beranjak dari tempatnya untuk menghampiri kedua orang tuanya. Sepertinya ia akan meminta agar segera pulang. Bagaimana ini? Orang yang disukai sudah menjadi milik orang lain, bahkan mereka menikah. Dan bagaimana bisa mereka menikah bahkan dalam keadaan belum lulus sekolah? Konyol. Tapi sesaat kemudian senyumnya mulai mengembang secara perlahan. Sepertinya Soyi tidak mempunyai niatan sedikipun untuk menyerahkan Sehun begitu saja pada Jiyeon secara cuma-cuma. Ia masih memiliki banyak cara agar bisa menjadikan Sehun sebagai miliknya.

 

***

 

Jiyeon POV

Acara pernikahan kami akhirnya tuntas sudah. Para tamu mulai meninggalkan tempat resepsi untuk kembali ke kediaman masing-masing. Tubuhku rasanya pegal sekali. Terutama kakiku. Aku berdiri selama berjam-jam untuk menyalami setiap tamu yang datang. Terlebih lagi aku mengenakan high heels yang lumayan tinggi. Bayangkan saja betapa besar pengorbananku saat menggunakannya. Belum lagi Sehun dan Ayahnya yang memperkenalkanku kepada kenalan mereka. Kakiku rasanya ingin lepas dari tempatnya.

 

Setelah tamu benar-benar sudah pulang dan yakin tidak ada yang tersisa di sini kami langsung segera pulang menuju rumah Sehun. Aku menyandarkan tubuhku di kursi mobil. Aku dan Sehun hanya berdua di dalam mobil. Sementara orang tua kami menggunakan mobil yang berbeda. Katanya mereka tidak ingin mengganggu pengantin baru. Yang benar saja.

 

Kulihat ia masih terlihat segar dan tidak ada raut kelelahan di wajahnya. Luar biasa. Apa ia memiliki begitu banyak tenaga hingga masih terlihat segar seperti itu? Ia bahkan menolak tawaran Ibunya agar diantar menggunakan supir. Ia lebih memilih meyetir sendiri. Wajahnya terlihat sangat fokus melihat jalanan yang ada di hadapannya saat ini.

 

“Aku tahu aku sangat tampan. Tidak perlu menatapku seperti itu, sekarang aku sudah menjadi suamimu. Kau bisa menatapku sepuas yang kau mau di rumah nanti,” ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya terhadap jalanan yang sedang kami lewati.

 

“Jangan mulai lagi Oh Sehun. Percaya dirimu terlalu berlebihan untuk ukuran orang sepertimu,” balasku. Ia hanya tersenyum miring ke arahku dan menatapku dengan pandangan mengejek. Menyebalkan.

 

“Apa kau tidak lelah?” tanyaku lagi setelah beberapa saat kami terdiam.

 

“Ani. Aku tidak akan kelelahan hanya karena hal seperti tadi karena aku memiliki banyak tenaga. Dan aku juga menyisihkan sebagian tenagaku untuk kegiatan kita nanti malam,” dia menunjukkan seringaian bodohnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku setelah mengucapkan hal itu. Aku hanya menyernyit bingung mendengar ucapannya. Kegiatan nanti malam? Apa maksudnya?

 

“Ya! Dasar mesum,” ucapku sambil memukul lengannya. Wajahku mulai memerah saat aku menangkap apa arti ucapannya barusan.

 

“Dasar bodoh kenapa reaksimu itu lamban sekali eoh?” ujarnya disertai dengan tawa. Ia terlihat sangat puas karena telah berhasil menggodaku untuk yang kesekian kalinya.

 

“Tutup mulutmu Oh Sehun, kita tidak akan melakukan apapun nanti malam!” aku langsung membuang wajahku asal. Yang terpenting aku tidak ingin menatapnya, karena akan membuatku semakin malu. Wajahku terasa semakin panas.

 

“Ya, mungkin tidak tidak untuk sekarang. Tapi pasti kita akan melakukannya juga. Lagi pula sekarang kita sudah terikat dalam hubungan yang sah dan tidak ada yang salah jika kita melakukannya. Dan aku juga sudah pernah melihat tubuhmu, jadi tidak ada lagi yang perlu kau tutupi dariku, Nyonya Oh,” ucapnya sambil mengusap pipiku perlahan menggunakan sebelah tangannya.

 

Mendengar pernyataannya malah membuat wajahku semakin panas. Aku tidak ingin tahu seperti apa wajahku saat ini karena pasti terlihat sangat memalukan. Pria ini. Dia bisa menjadi menyebalkan dan begitu lembut dalam waktu yang bersamaan. Benar-benar ajaib. Sepertinya aku harus bisa membiasakan diriku untuk menghadapinya karena sikapnya yang bisa berubah kapanpun ia mau. Dan akhirnya kami sampai di kediaman keluarga Sehun. Aku ingin segera mandi dan merebahkan diriku di atas ranjang yang empuk.

 

Aku segera keluar dari mobil diikuti Sehun. Tak lama muncul mobil yang di dalamnya terdapat orang tua kami. Aku dan Sehun membungkuk memberi hormat kepada mereka dan mempersilahkan mereka agar masuk lebih dulu. Dan satu kenyataan yang menyebalkan baru ku sadari saat seperti ini, karena ternyata jarak dari parkiran menuju pintu depan cukup jauh. Ini pertama kalinya aku mengeluh tinggal di rumah mewah Sehun. Ternyata memiliki rumah yang luas sangat merepotkan. Karena aku harus berjalan bersusah payah dengan kakiku yang sudah sangat pegal dan agak sedikit perih. Aku berjalan mendahului Sehun dengan agak tertatih. Tiba-tiba saja kurasakan kakiku melayang dari tempat yang aku pijak. Dan ternyata itu karena ulah Sehun yang menggendongku!

 

Aku memukul bahunya dan memintanya untuk menurunkanku. Tapi ia sama sekali tidak mempedulikanku dan tetap berjalan. Bahkan ia mendahului orang tua kami yang ada di depannya. Mereka hanya tertawa melihat kelakuan kami sambil menggelengkan kepala. Sehun mendudukkanku di kursi tamu saat kami tiba di dalam. Ia menghempaskan tubuhnya di sampingku. Orang tua kami pun melakukan hal yang sama. Mereka semua terlihat sangat lelah tapi juga bahagia. Aku tersenyum karenanya.

 

“Kembalilah ke kamar kalian, mandi lalu istirahat,” ucap Ibu Sehun. Ia juga menyuruh orang tuaku menginap malam ini saja, karena mereka terlalu lelah jika pulang sekarang. Aku mengangguk menanggapi ucapan Eommonim dan berniat beranjak dari tempat dudukku.

 

“Ah Jiyeon-ah, apa Sehun sudah memberi tahumu kalau kalian akan sekamar mulai sekarang?”

 

“MWO?” tanyaku secara spontan. Bahkan lebih terdengar seperti teriakan.

 

“Ne, karena Ayah Sehun membutuhkan ruangan untuk menaruh bukunya yang sudah tidak muat lagi jika di taruh di ruang kerjanya. Lagi pula kalian sudah menikah, jadi tidak masalah.” Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku mendengarnya. Sekamar dengan Sehun? Yang benar saja.

 

“Tadinya kami berniat membelikan kalian sebuah apartemen, tapi mengingat kalian masih sekolah lebih baik kalian tinggal di sini saja.” Eomma akhirnya mengeluarkan suaranya juga. Aku tersenyum pertanda mengerti apa yang mereka katakan dan beringsut bangun dari dudukku dan mulai melangkahkan kakiku ke atas. Sehun hanya mengikutiku dari belakang.

 

“Satu lagi, Sehun kau jangan bertindak macam-macam pada Jiyeon. Kalian masih sekolah, ingat,” perkataan Ayah Sehun membuat wajahku memerah. Sehun hanya tersenyum mendengar ucapan Ayahnya dan berjalan mendahuluiku menuju kamarnya. Aku menghela napasku kasar. Ini benar-benar hari yang melelahkan.

 

***

 

Aku terkejut saat membuka mataku karena melihat Sehun yang masih tertidur di sampingku. Aku segera menutup mulutku agar tidak berteriak. Karena itu hanya akan membuatku benar-benar terihat bodoh jika melakukannya. Benar juga, kami baru saja menikah kemarin dan hari ini adalah hari Minggu. Ia langsung tertidur setelah membersihkan dirinya. Ternyata perkataannya semalam hanya untuk menggodaku. Kupikir ia sungguh-sungguh akan melakukannya, membuatku gelisah saja. Aku menurunkan tubuhku dari atas ranjang Sehun untuk menuju kamar mandi. Jam sudah menunjukkan pukul 8, tapi kenapa tidak ada yang membangunkan kami? Dari pada memikirkan pertanyaan yang sudah pasti tidak akan ada yang menjawabnya, aku langsung melangkahkan kakiku ke arah kamar mandi.

 

Sehun POV

Aku merenggangkan tubuhku perlahan. Rasanya otot-ototku kaku sekali karena berdiri cukup lama kemarin. Bohong saat aku katakan pada Jiyeon bahwa tubuhku tidak lelah. Kalau aku tidak lelah mungkin aku akan melakukan malam pertama dengannya. Bicara soal Jiyeon aku tidak melihatnya, kemana dia? Ah, mungkin dia sudah turun ke bawah. Aku duduk di tepi ranjangku, perutku sangat lapar. Aku baru ingat semalam aku tidak makan. Lebih baik aku mandi lalu turun ke dapur mencari makanan.

 

Aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.  Aku melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhku. Aku berjalan menuju ke arah bath up yang dipasangi tirai. Aku ingin berendam air hangat agar ototku tidak terlalu kaku. Kutarik tirainya tapi…

 

“KYAAAAAAAAAAAA,” teriakku dan Jiyeon berbarengan. Aku melihatnya sedang duduk bersandar di dalam bath up. Dan pastinya tanpa mengenakan apapun. Jiyeon menyilangkan kedua tangannya di atas dada. Saat ia berbalik ke arah ku matanya tidak sengaja melihat ke arah ‘benda keramatku’. Dan ia berteriak lagi. Aku berlari mencari handukku dan melilitkannya di pinggangku lalu berjalan keluar.

 

Setelah ‘insiden’ tak terduga tadi aku jadi sedikit salah tingkah. Kami keluar kamar bersama dan berjalan menuruni tangga. Tujuan kami sama, yaitu dapur. Kami sama-sama terdiam dan tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan.

 

“Akhirnya kalian bangun, dasar pengantin baru. Aku dan Appamu akan pergi keluar. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian.” Eomma terkekeh lalu berjalan menyusul Appa yang sudah menunggunya di luar. Dasar. Apa maksud dari ucapannya itu?

 

Kulihat wajah Jiyeon yang sedikit memerah. Apa karena ucapan Ibuku tadi? Aku langsung berjalan ke arah dapur karena perutku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan meminta untuk segera diisi. Di meja sudah  tersedia beberapa makanan, aku langsung duduk dan menyantapnya. Jiyeon duduk di kursi yang ada di hadapanku lalu mengambil sumpit. Ia mulai memakan makanannya. Ah, aku teringat sesuatu.

 

“Saat kedatangan Soyi kemarin kenapa kau begitu terkejut? Bahkan kau terlihat seperti orang yang ketakutan.” Ia mendongakkan wajahnya yang sejak tadi menunduk mengahadap makanannya.

 

“Ne? Tidak apa-apa, aku hanya terkejut itu saja.” Aku menyernyitkan dahiku bingung. Ia terlihat ragu saat mengatakan hal itu dan sikapnya menjadi sedikit aneh menurutku.

 

“Wae? Apa ada hal yang kau sembunyikan dan aku tidak mengetahuinya?”

 

“Tidak, tidak ada hal apapun sehingga aku harus menyembunyikannya.” Ia menghadapkan kembali wajahnya pada makanan di hadapannya.

 

“Baiklah, kalau ada sesuatu jangan sungkan untuk memberitahuku. Karena aku adalah suamimu.” Aku ingin tertawa rasanya saat menyebut kata ‘suamimu’. Terdengar sangat aneh dan gatal di lidah jika mengucapkannya. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arahku. Sepertinya ia tidak mengatakan hal yang sejujurnya padaku. Baiklah, kalau kau tidak ingin mengatakannya aku akan mencari tahunya sendiri.

 

“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Aku bosan, di rumah juga tidak ada siapapun kecuali kita.” Tawarku padanya, ia terlihat seperti sedang berpikir dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya.

 

“Kalau begitu ganti pakaianmu setelah selesai makan, kita akan langsung berangkat.” Lagi-lagi ia hanya membalas ucapanku dengan anggukkan kepala.

 

Setelah kami berganti pakaian, aku menggandeng tangannya menuju mobilku. Sepertinya ia terkejut dengan perlakukanku. Apa dia tidak mempunyai ekspresi lain selain terkejut? Dasar. Aku mengendarai mobilku ke sebuah tempat permainan. Ya, Lotte World. Hanya tempat itu yang terpikir olehku saat ini.

 

Tidak perlu memakan waktu lama agar sampai di Lotte World. Ini pertama kalinya aku pergi ke sini bersama dengan gadis yang aku sukai—bahkan aku mulai mencintainya. Biasanya aku datang bersama dengan gadis hanya sekedar untuk bermain-main saja. Aku tidak pernah seserius ini dengan seorang gadis. Dan aku bertekad untuk tidak main-main lagi. Terutama gadis yang ada di sampingku saat ini sudah menjadi istriku.

 

Kami memulai permainan yang tidak terlalu ekstrim sebagai pemanasan. Setelah menaiki beberapa wahana aku mengajak Jiyeon untuk membeli es krim. Ia terlihat sangat senang. Aku jadi ikut senang melihatnya. Dapat membuatnya tersenyum seperti ini ada perasaan puas tersendiri untukku.

 

Aku membawa dua es krim vanilla dan memberikan salah satunya pada Jiyeon yang sedang duduk di sebuah kursi.

 

“Gomawo.” Ia memperlihatkan senyum manisnya lagi.

 

“Ne, apa kau senang aku membawamu ke sini?” tanyaku penasaran. Meskipun ia menunjukkan raut wajah gembira aku tetap ingin mendengar pernyataan langsung darinya.

 

“Ne, aku sangat senang. Gomawo Sehun-ah,” ucapnya terdengar sangat tulus.

 

“SEHUN-AH!”

 

Author POV

Sehun mencari-cari sosok yang menyerukan namanya. Ia memicingkan matanya dan telihat seorang gadis sedang berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan. Han Soyi. Sehun menatap gadis itu tanpa minat dan berbalik ke arah Jiyeon yang ternyata sedang menatap gadis itu—Soyi. Gadis itu langsung menubruk tubuh Sehun dan memberikan pelukan untuknya. Sehun melepaskan kaitan tangan Soyi yang ada di pinggangnya dengan cukup keras hingga gadis itu mundur beberapa langkah.

 

“Apa yang kau lakukan? Kenapa bisa di sini?” tanya Sehun heran. ‘Kenapa gadis ini selalu ada di sekitarnya?’ Pikir Sehun.

 

“Aku sedang berjalan-jalan dengan temanku. Kebetulan sekali kita bertemu, mungkin kita jodoh.” Ia terlihat sumringah. Ia tidak terlalu mempedulikan tindakan Sehun tadi yang telah menghentakkan tangannya dengan kasar.

 

“Jangan bercanda. Aku sudah menikah kalau kau lupa.” Sehun menatapnya dengan pandangan tidak suka. Sementara Jiyeon hanya diam memandangi dua orang yang ada di hadapannya yang sedang berseteru.

 

“Tentu saja aku ingat. Dan pernikahan kalian sangatlah konyol. Kalian menikah secara sembunyi-sembunyi kan? Ah, apa jadinya jika aku memberi tahu yang lain? Pasti akan jadi berita yang sangat menggegerkan.” Ucapnya dengan pandangan sinis yang ia tujukan kepada Sehun dan Jiyeon. Sehun sedikit menggeram mendengar perkataan Soyi. Jiyeon yang sudah merasa keadaan seperti ini pasti akan terjadi hanya bisa mengepalkan tangannya. Ketakutannya selama ini terbukti sudah. Soyi akan membeberkan perihal pernikahan mereka ke sekolah. Dan pasti akan banyak masalah yang timbul karena hal itu.

 

“Jangan main-main. Kau tidak boleh memberi tahu masalah ini pada yang lainnya.” Sehun berusaha membuat dirinya setenang mungkin saat menghadapi gadis menyebalkan ini.

 

“Aku tidak akan mengatakan pada yang lain. Asalkan kau mau menuruti segala permintaanku, Sehun-ah. Bagaimana?” Soyi tersenyum licik ke arah mereka berdua. Akhirnya ia menemukan cara agar Sehun bisa bersamanya. Apapun itu akan ia lakukan demi Sehun. Jiyeon menatap Sehun dan menggelengkan kepala pertanda tidak setuju. Tapi jika ia tidak mengikuti kemauan Soyi pasti akan sulit utuknya dan Jiyeon nanti. Sehun terdiam sejenak dan menimang-nimang keputusan yang akan ia ambil.

 

“Baiklah, kau harus berjanji untuk menjaga mulutmu itu.” Sehun terdengar lirih sangat mengatakannya. Ia melakukan ini demi dirinya dan Jiyeon. Dan yang pasti dengan perasaan sangat terpaksa tentunya. Soyi sangat senang saat Sehun menyetujui syarat yang diajukan olehnya. Jiyeon menatap Sehun tidak percaya. Kenapa ia mau menuruti permintaan Soyi yang terdengar sangat konyol. Jiyeon bersiap meninggalkan mereka berdua. Tapi tangannya ditahan lebih dulu oleh Sehun.

 

“Aku melakukan ini demi kita berdua kuharap kau mengerti Jiyeon-ah.” Ucap Sehun seraya mengusap kepala Jiyeon lembut. Jiyeon mengangguk paham. Sehun juga pasti melakukannya dengan terpaksa. Soyi yang melihat adegan mereka mendecakkan lidahnya kesal.

 

“Kalau begitu temani aku jalan-jalan di sini.” Soyi langsung menggandeng lengan Sehun dan menariknya pergi. Sehun menatap ke arah Jiyeon dan memberikan isyarat supaya mengikuti mereka berdua. Jiyeon menghela napasnya lemah dan berjalan mengikuti mereka dengan malas. Menyebalkan sekali rasanya melihat pria yang ia sukai bersama dengan gadis lain tepat di depan matanya. Ya, Jiyeon akhirnya mengakui perasaannya terhadap Sehun. Bahwa ia memang menyukainya. Dua orang yang ada di hadapannya kini tengah berjalan beriringan untuk membeli tiket. Jiyeon berkali-kali menghela napas melihat tingkah Soyi terhadap Sehun.

 

Jiyeon menolak untuk menaiki wahana yang telah dipilih oleh Soyi dan lebih memilih untuk menunggu mereka. Sehun sangat merasa bersalah pada Jiyeon. Ia merasa seperti orang yang sedang berselingkuh secara terang-terangan. Jiyeon hanya bisa menahan perasaannya. Kalau saja Soyi tidak datang saat itu, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Tapi takdir sudah berkata lain. Ia hanya bisa menerimanya dengan pasrah. Ingin sekali Jiyeon menendang Soyi karena bersikap manja pada Sehun. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Yang ada sikap menyebalkan Soyi semakin menjadi-jadi.

 

“Maaf membuatmu menunggu.” Sehun langsung menghampiri Jiyeon saat ia selesai dengan permainannya. Jiyeon hanya tersenyum lemah menanggapinya.

 

“Sehun-ah, apa kau haus? Kau ingin ingin meminum sesuatu?” tanya Soyi sambil menggelayut manja seperti biasanya.

 

“Terserah kau saja,” jawab Sehun malas.

 

“Kau tunggu sebentar di sini. Aku akan mencarikan minum untukmu.” Setelah mengatakan hal itu Soyi langsung berjalan pergi meninggalkan mereka. Dan sebuah ide muncul ke dalam pikiran Sehun. Kesempatan bagus. Sehun langsung menarik tangan Jiyeon saat Soyi telah hilang dari pandangannya.

 

“Kita mau kemana? Bagaimana dengan Soyi?” tanya Jiyeon. ia takut saat Soyi datang tidak menemukan mereka berdua nanti.

 

“Aku muak jika terus-terusan bersamanya. Dan maaf kencan kita menjadi kacau seperti ini karena kedatangannya.” Raut penyesalan sangat terlihat di wajah Sehun.

 

“Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Lagi pula kau melakukannya demi kita berdua.” Jiyeon mencoba tersenyum sebaik yang ia bisa.

 

“Ayo kita ke sana, aku ingin menaiki bianglala itu bersamamu.” Sehun terlihat sangat bersemangat, Jiyeon hanya tersenyum melihatnya. ‘Seperti anak kecil saja’ pikir Jiyeon.

 

Mereka berdua sedang mengantri untuk menaiki bianglala tersebut. Sehun menggenggam tangan Jiyeon dengan erat membuat gadis itu merasa malu dan canggung. Akhirnya kini giliran mereka untuk naik. Sehun mempersilahkan Jiyeon untuk naik leibh dulu. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Atmosfer canggung sangat kentara diantara mereka. Jiyeon mengalihkan pandangannya ke arah luar dan melihat apapun yang ditangkap oleh matanya.

 

“Sehun-ah, bagaimana kalau Soyi sudah kembali dan melihat kita tidak ada?” Jiyeon terlihat sangat cemas. Dan ia tidak ingin membayangkan apa lagi yang akan dilakukan oleh Soyi.

 

“Kau tenang saja, tidak usah mengkhawatirkannya,” jawab Sehun santai.

 

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang? Pasti ia akan meminta hal-hal aneh lagi padamu dan aku tidak suka itu.” Jiyeon terlihat tidak sadar mengatakannya. Sehun menatap Jiyeon lekat-lekat dan seringaian kecil muncul di bibirnya yang sepertinya tidak dilihat Jiyeon.

 

“Kenapa? Apa kau cemburu? Kau mulai menyukaiku?” Sehun meluncurkan pertanyaan yang bertubi-tubi pada Jiyeon dan membuat gadis itu gelagapan. Jiyeon merutuki mulut bodohnya yang tidak bisa mengontrol ucapannya.

 

“Mwo? A, a, aku tidak. Bukan seperti itu maksudku Oh Sehun.” Jiyeon bergerak-gerak gelisah karena tidak tau apa yang akan ia ucapkan untuk membantah pertanyaan yang dilontarkan oleh ‘suaminya’ itu.

 

“Sudahlah jujur saja Nyonya Oh, kau menyukai juga bukan?” Sehun bertanya dengan senyum kemenangan yang tercetak di bibirnya. Ia menunggu jawaban dari Jiyeon yang hanya melihat ke segala arah.

 

“Ne? Ah, itu, aku sebenarnya.” Jiyeon terlihat ragu mengatakannya. Pikirannya berkecamuk untuk mengatakan perasaan yang sesungguhnya atau tidak. Ia meremas-remas tangannya dan menggigit bibirnya gusar.

 

“Kau menyukaiku bukan? Jujur saja padaku.” Sehun memotong ucapan Jiyeon dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon karena tidak sabar.

 

“Ne, a aku menyukaimu.” Akhirnya Jiyeon mengatakannya. Karena dirasa percuma jika ia berbohong sementara Sehun sudah tahu jawaban yang sesungguhnya. Sehun tersenyum senang mendengarnya. Jiyeon memejamkan matanya rapat-rapat karena tidak ingin melihat reaksi Sehun setelah mendengar pernyataan darinya.

 

Perlahan namun pasti Sehun mendaratkan bibirnya di atas bibir Jiyeon. Jiyeon sedikit tersentak dan membuka matanya karena merasakan sesuatu yang basah di bibirnya. Jiyeon merasakan bibir Sehun mulai bergerak. Sehun melumat bibir Jiyeon atas bawah secara bergantian dengan lembut. Perlahan Jiyeon memejamkan matanya dan menikmati ciuman yang diberikan Sehun. Sehun menggigit kecil bibir Jiyeon dan menusuk bibir Jiyeon menggunakan lidahnya mengajak bermain. Jiyeon akhiranya ikut membalas permainan bibir Sehun dengan bergantian melumatnya. Sehun tersenyum di sela-sela ciuman mereka dan memperdalam lumatannya dengan menarik tengkuk Jiyeon.

 

Sementara itu di lain tempat Soyi sedang kelimpungan mencari sosok Sehun yang tidak ia temukan di tempat terakhir mereka bertemu. Ia menyesali kebodohannya yang meninggalkan Sehun begitu saja. Terlebih lagi bersama dengan Jiyeon. Ia mengacak-acak rambutnya kesal.

 

***

 

Hari berjalan begitu saja. Kini mereka harus kembali kerutinitas harian mereka yaitu sekolah. Setelah Jiyeon mengakui tentang perasaannya kemarin hubungan antara keduanya—Sehun dan Jiyeon menjadi lebih baik dan tidak terlalu canggung. Mereka sedang jalan beriringan di koridor untuk menuju kelas. Sekolah masih terlihat sepi karena mereka berangkat lebih pagi dari biasanya. Ini merupakan pertama kalinya Jiyeon merasa senang bisa kembali ke sekolah, ia seperti telah meninggalkan sekolah dalam kurun waktu yang lama. Padahal hanya dua hari ia tidak melihat sekolahnya ini. Ia sangat tidak sabar bertemu dengan Sulli dan Taemin.

 

Dan bicara soal Taemin, ia menjadi jarang menghubungi Jiyeon. Tidak seperti kemarin, Jiyeon merasa Taemin sedang berusaha menjauhinya. Tapi kenapa? Apa ia membuat suatu kesalah tanpa ia sadari? Jiyeon sibuk dengan pikirannya tentang Taemin dan tidak sadar jika ia telah sampai di depan kelasnya. Tidak seperti biasanya, Sulli belum datang pada jam-jam seperti ini. Kemana anak itu? Sulli tidak pernah terlambat sebelumnya dan selalu datang 30 menit lebih awal sebelum bel masuk berbunyi. Sementara itu Sehun sudah bertengger di kusinya bersama dengan Kai. Harus Jiyeon akui jika Kai adalah anak yang rajin.

 

Lima menit sebelum bel akhirnya Sulli muncul menampakkan dirinya dengan keadaan terengah-engah. Rambutnya agak berantakan karena sepertinya ia berlari untuk mencapai kelas.

 

“Tumben sekali kau baru datang Sulli-ah?”

 

“Aku kesiangan Jiyeon-ah, untung saja bel belum berbunyi. Aku takut sekali kalau sampai terlambat nanti.” Sulli berbicara dengan susah payah karena berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal akibat berlari. Jiyeon menepuk-nepuk punggung Sulli dan merapikan rambutnya yang berantakan. Bel berbunyi pertanda pelajaran akan segera dimulai. Kang seonsaengnim sudah berdiri di depan kelas untuk memberikan materi baru.

 

Para murid terlihat bosan mendengar materi yang disampaikan oleh Kang seonsaengnim. Pelajaran sejarah. Kenapa mereka harus mempelajari hal-hal yang telah terjadi di masa lalu? Bukankah akan lebih baik jika mereka mempelajari ilmu yang akan menjadi bekal untuk masa depan mereka? Begitulah pendapat kebanyakan murid yang dijadikan sebagai alasan untuk tidak menyukai pelajaran sejarah.

 

Para murid silih berganti melihat jam untuk memastikan kapan pelajaran membosankan ini akan segera berakhir. Jam terasa berjalan dengan sangat lama seperti sedang mengejek mereka yang sedang menanti bunyi bel istirahat. Setelah menunggu dengan penuh perjuangan akhirnya bel pun berbunyi. Jiyeon dan Sulli menghela napas bersamaan. Dan bersyukur Kang seonsaengnim tidak memberikan PR hari ini.

 

Taemin belum menampakkan dirinya seperti biasa. Jiyeon semakin heran dengan temannya yang satu itu. ia menunggu Sulli yang masih membereskan peralatannya. Sehun juga masih mencatat tulisan Kang seonsaengnim yang ada di papan begitu pula dengan Kai. Jiyeon langsung menarik tangan Sulli keluar kelas begitu ia selesai.

 

“Kenapa Taemin belum datang?” tanya Jiyeon pada Sulli.

 

“Entahlah, aku merasa dia jadi sedikit aneh. Kau tahu ada apa dengannya?” Sulli menghadap Jiyeon dan menunggu jawabannya.

 

“Hhh, aku juga tidak tahu. Tadinya aku ingin menanyakan hal itu padamu, ternyata kau juga tidak mengetahuinya.” Jiyeon menyandarkan tubuhnya di dinding.

 

“Bagaimana kalau kita ke kelasnya saja? Selama ini selalu Taemin yang menunggu kita. Mungkin ia masih di kelasnya.” Jiyeon langsung mengangguk dan menarik Sulli menuju kelas Taemin.

 

Dan benar saja, Taemin masih berada di dalam kelas dan sedang berjalan keluar. Ia tidak melihat jika Jiyeon dan Sulli sudah menunggunya. Taemin agak terkejut melihat Jiyeon dan Sulli, karena mereka hampir tidak pernah ke kelasnya.

 

“Ada apa?” Pertanyaan Taemin terdengar sangat bodoh menurut Jiyeon dan Sulli. Mereka ke mari justru ingin menanyakan keadaannya.

 

“Seharusnya kami yang bertanya, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat aneh sekarang?” serbu Jiyeon sambil berkacak pinggang. Sulli menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Jiyeon.

 

“Memang ada apa denganku? Aku baik-baik saja.” Taemin langsung merangkul mereka berdua dan menggiringnya menuju kantin. Ia tidak ingin membahas masalah ini. Seperti yang kita tahu bahwa Taemin memiliki perasaan lebih terhadap Jiyeon. Ia hanya sedang berusaha memulihkan perasaan sakitnya akibat pernikahan Sehun dan Jiyeon. Ia memang menampakkan senyumnya saat itu. Dan itu ia lakukan untuk menutupi perih yang sedang ia rasakan karena Taemin benar-benar tidak ingin ada orang yang mengetahui perasaannya.  Cukup ia saja yang mengetahuinya—dan juga Sehun.

 

Mereka langsung duduk di kursi yang biasa mereka tempati. Kini giliran Jiyeon untuk memesan makanan. Mereka memang sering seperti itu walau memang Taemin yang labih sering memesan makanan untuk mereka. Tepat di belakang Jiyeon berdiri seorang gadis yang tengah memandangnya dengan kesal. Han Soyi, memang siapa lagi orang yang begitu menbenci Jiyeon selain dirinya? Ia menginjak kaki Jiyeon dengan keras membuatnya berteriak kesakitan. Untung Jiyeon tidak berteriak terlalu keras, sehingga tidak ada orang yang begitu memedulikannya. Soyi tersenyum licik ke arahnya. Ia terlihat begitu puas bisa mengerjai Jiyeon. Taemin melihat ke arah mereka berdua. Seingatnya Jiyeon tidak dekat dengan gadis bernama Soyi itu. Dan tatapan Soyi itu sepertinya bukan tatapan yang bersahabat. Ia melihat Soyi membisikkan sesuatu kepada Jiyeon lalu berjalan ke arah Sehun yang baru memasuki kantin. Kai yang melihat Sulli dan Taemin langsung menyeret Sehun untuk bergabung bersama mereka. Otomatis Soyi pun ikut bersama mereka.

 

“Tidak apakan jika kami ikut bergabung?” Tanya Kai yang sudah duduk lebih dulu di kursi mereka. Sulli menatap Kai dengan aneh dan memutar matanya.

 

“Tentu saja,” jawab Taemin sambil tersenyum. Jiyeon datang ke arah mereka dengan membawa banyak makanan di tangannya. Ia terlihat heran karena mendapati Soyi ada di tempatnya. Dan ia mengangguk mengerti setelah melihat Sehun juga berada di sana.

 

“Wah kau membawa banyak sekali makanan. Baguslah, aku tidak perlu mengantri untuk mengambil makanan.” Kai langsung mengambil salah satu makanan itu dan memakannya. Mereka semua hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Kai. Sehun sedari tadi hanya menatap Jiyeon dan itu membuat gadis tersebut gugup. Soyi yang melihatnya langsung menarik tangan Sehun dan memeluknya agar ia mengalihkan pandangannya dari Jiyeon. Soyi mengambil makanan yang ada di meja dan meyodorkannya ke arah Sehun. Mereka semua—kecuali Sehun melihat Soyi dengan tatapan yang… errr, entahlah sulit untuk dijelaskan.

 

Waktu berjalan dengan cepat jika mereka sedang menikmatinya. Ya, untung saja ada salah satu pelajaran yang menurut para murid yang tidak terlalu membosankan sehingga mereka tidak terlalu jenuh. Bel pulang telah mengeluarkan bunyinya beberapa menit yang lalu. Jiyeon melihat Soyi yang sedang menghampiri Sehun. Entah apa yang mereka bicarakan ia tidak ingin mengetahuinya. Yang jelas Sehun langsung menghampirinya dan mengatakan kalau mereka tidak bisa pulang bersama. Jiyeon mengerti. Lagi pula tadi Soyi menyuruhnya ke suatu tempat saat di kantin tadi seusai sekolah.

 

“Sulli-ah, aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus aku urus, tidak usah menungguku.” Jiyeon langsung berjalan keluar begitu saja padahal Sulli ingin bertanya ke mana ia akan pergi. Jiyeon melewati Taemin yang sudah berdiri di depan kelas mereka, Taemin hanya menyernyit heran. ‘Apa ia tidak melihatku?’ pikirnya.

 

“Ada apa dengan Jiyeon? Ia terlihat buru-buru sekali,” tanya Taemin.

 

“Tadi ia bilang ada urusan, tapi aku tidak tahu urusan apa. Ia langsung pergi sebelum aku sempat bertanya padanya. Ayo kita pulang Taemin-ah.” Ucap Sulli seraya memegang tangan Taemin.

 

“Sebenarnya aku juga ada urusan, aku ke sini untuk memberitahukan hal itu.” Taemin terpaksa berbohong karena penasaran kemana Jiyeon akan pergi dan ingin mengikutinya.

 

“Aish baiklah, kalian berdua ini sok sibuk sekali. Kalau begitu aku pergi.” Sulli pergi meninggalkan Taemin sambil melambaikan tangannya. Taemin membalas lambaian tangan Sulli. Dan bergegas mencari Jiyeon ke arah yang gadis itu lewati.

 

Taemin terus berlari menyusuri koridor yang dilewati oleh Jiyeon. Entah mengapa ia merasa begitu khawatir terhadap gadis itu. Akhirnya ia menemukan Jiyeon yang sedang berada di belakang sekolah menuju gudang. Untuk apa ia kesana? Ia memantau Jiyeon dari jauh. Taemin melihat ada tiga orang gadis yang sepertinya sedang menunggu Jiyeon di sana. Dua diantaranya menyeret Jiyeon untuk memasuki gudang. Taemin sangat penasaran dibuatnya dan perlahan berjalan untuk menghampiri gudang tersebut.

 

Soyi beserta kedua temannya menyeret Jiyeon untuk masuk ke dalam gudang. Mereka menghempaskan tubuh Jiyeon ke lantai dengan cukup keras membuat sang empunya memekik kesakitan.

 

“Kalian mau apa? Kenapa menyuruhku datang ke sini?” Siapapun yang mendengar suara Jiyeon pasti akan tahu jika ia sedang ketakutan saat ini. Bagaimana tidak, ia sedang dikepung dalam ruangan pengap seperti ini siapapun pasti akan merasa takut jika berada dalam posisinya.

 

“Mau apa katamu? Tentu saja untuk memberimu pelajaran. Bisa-bisanya kau menikah dengan Sehun. Kau tahu aku sangat menyukainya, beraninya kau mengambilnya dariku.” Soyi menampar pipi Jiyeon dengan keras hingga menyebabkan Jiyeon terjerembab kembali ke lantai yang kotor itu. Jiyeon memegang pipinya yang terasa begitu perih akibat tamparan Soyi yang begitu dahsyat.

 

Tiba-tiba ia merasakan air mengguyur tubuhnya. Soyi beserta temannya tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Jiyeon. Mereka mendekati Jiyeon dan menarik rambutnya hingga ada beberapa helai yang terlepas dari kepala Jiyeon. Jiyeon mencoba melepaskan dirinya dengan menendang gadis yang ada di depannya hingga terpental ke belakang. Soyi balas menendang tubuh Jiyeon beserta satu temannya yang lain. Jiyeon meringis kesakitan dan memohon pada mereka untuk berhenti melakukan aksi penyiksaan ini. Tapi mereka tidak memedulikannya.

 

Taemin merasa ada hal aneh yang terjadi di dalam. Saat ia hendak mencapai gagang pintu, pintu tersebut telah terbuka lebih dulu. Ia segera menyembunyikan dirinya karena tidak ingin ketahuan menguntit mereka. Setelah mereka pergi ia bergegas masuk ke dalam.

 

“JIYEON-AH!” teriak Taemin saat melihat Jiyeon yang tergeletak di bawah dalam keadaan tidak sadarkan diri.

 

 

 

_My Marriage Is-

TBC

_________________________________________________________

Huh, akhirnya selesai juga ngetik untuk part 6. Semoga kalian

Suka ya ^^

Kritik dan saran ditunggu

Jangan lupa komentarnya ya ^^

_________________________________________________________

*NB : aku cuma mau ngasih tahu kalian kalau part 7 nanti bakalan aku

protect. Untuk dapetin passwordnya silahkan buka page

HOW TO : GET PASSWORD

226 Comments

  1. Sehun makin suka goda dan ngerjain jiyeon stlh nikah,tp itu bikin mrk terlihat akrab..
    Wah han soyi bukanya sadar palah mkn ngelunjak,gimana kl sehun tau selama ini jiyeon sllu dancam pasti bakalan marah besar..
    Mang kmn sehun sampe” ga tau kl jiyeon bertemu soyi dgudang,untung ada taemin

    Like

    Reply

  2. astgaaaa nappeun neo han soyi!!!! astgaaaa kasiannn si jiyeon😦 haaahhh😦 .. untung ajh ada di taemin, klo ngga gatau dehh gmna nasib jiyeon?? .. haaaahhh pngen bngt mukul si soyi!! ..
    mkin kepo juga, mau lanjut ne😉

    Like

    Reply

  3. Mbak Soyi.. maap ni yak bukannya apa” . Mau tanya boleh?? pernah sekolah kagak sih??Dirumah emang sering bgt bikin orang gemes yaa. Hadeeh.. Banh Thehun cptn dateng bang. Istri lu noh

    Like

    Reply

  4. Astaga soyi!!!!!! Ihhhhhh jhatnya minta ampun ihhh -_-
    Sehun kemana itu????huaaaaa palli sehun-ah…slamatkan jiyeon!!!!
    Aku udah kirim di fb dan email untk minta pw thor…dibalas yah🙂

    Like

    Reply

  5. Ah jiyeon suka sehun jugaa ehek pasti hun langsung naik tuh kupingnya dasar lelaki! Taeminnya sedih banget ya lukaluka cinta aduhh. Soyi itu ih gak tau di untung ih kzl! Pengen banget di timpuk tuh anak kesel banget ihhh!

    Like

    Reply

  6. Yehet~😀 jiyeon akhirnya mengutarakan perasaannya sama Sehun^^. Jadi senang liatnya😀. Yang sabar ya Taemin😦 mungkin Jiyeon bukan jodohmu🙂. Ini lagi sih Soyi, jahat amet sama Jiyeon sampai segitunya.. Kalau suka sih suka tapi kalau Sehun gak suka mau diapain coba? Sehun yang tabah ya menghadapi Soyi..😀. Oke fighting buat autor^^. Oiya part selanjutnya di protect ya thor.. Aku mau minta passwordnya dong thor nanti aku akan follow author^^. My Twitter : @ShushyAjha. Nanti aku akan mession ke twitternya author^^. Oke fighting buat author.. Karyanya akan selalu aku tunggu!!^^

    Like

    Reply

Comment, comment~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s