[5th Scene] My Marriage Is…

posterreq-mmi-copy

My Marriage is … [Part 5]

Author Yaumila

 

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Lee Taemin  – Han Soyi (OC) – Choi Sulli – And other’s |

| Genre Shool Life, Marriage Life | Length Main Chapter |

| Rating PG-17 |

Poster by : ©FunluoBell Art

 

Disclaimer :

Para tokoh yang ada di FF ini milik Tuhan. Cerita ini murni hasil imajinasi saya.

Happy Reading~~

.

.

.

Author POV

“Ayo ikut aku, apa yang kau lakukan di sini dalam keadaan basah seperti itu?” tanya Sehun sambil mengulurkan tangannya ke arah Jiyeon. Jiyeon hanya mendongak tidak percaya menatap Sehun yang ada di hadapannya saat ini.

“Bukankah tadi kau sudah pulang? Untuk apa kembali lagi ke sekolah saat hujan seperti ini?” tanya Jiyeon masih dalam keadaan terkejut dan mengabaikan pertanyaan Sehun.

“Tentu saja menjemputmu bodoh! Memang untuk apa lagi? Cepat ikut aku, kau ingin masuk angin?” ujar Sehun yang masih menjulurkan tangannya.

“Untuk apa kau kembali ke sekolah hanya untuk menjemputku? Hujannya sangat deras, Sehun. Lagi pula aku bisa pulang sendiri,” ucap Jiyeon yang merasa tidak enak pada Sehun karena ia merasa bahwa dirinya sangat merepotkan.

“Sudah jangan bicara lagi, cepat naik ke mobil!” titah Sehun yang sedikit kesal pada Jiyeon karena tidak kunjung menerima uluran tangannya. Ia menggenggam tangan Jiyeon hingga ke mobilnya lalu membukakan pintu untuk Jiyeon dan mamaksanya masuk ke dalam dengan cara mendorong bahu Jiyeon.

Sementara itu Taemin yang melihat Jiyeon sudah dijemput oleh Sehun perlahan mulai berbalik dan melangkahkan kakinya menjauhi mereka. Seharusnya tadi ia tidak usah sepanik itu saat ia merasa Jiyeon yang masih belum pulang. Dulu jika saat-saat seperti ini Taemin selalu ada untuk Jiyeon jika ia sedang mengalami kesulitan. Tapi itu adalah hal yang dilakukan oleh seorang sahabat untuk sahabatnya. Ya, hanya sebatas sahabat tidak lebih. Harusnya ia sadar bahwa sudah ada orang yang akan menjaga Jiyeon kelak. Dan orang itu bukanlah dirinya. Itu kenyataan yang membuatnya sakit.

Ia dan Jiyeon adalah sahabat. Dan selamanya akan tetap sepeti itu, tidak ada yang berubah. Dulu ia berusaha mati-matian menutupi perasaannya di hadapan Jiyeon dan Sulli. Saat pertama kali ia menyadari bahwa ia memiliki perasaan lebih terhadap Jiyeon, ia bahkan tidak masuk sekolah beberapa hari karena selalu merasa canggung dan berdebar setiap berada di dekat Jiyeon. Tapi kini ia mulai bisa mengontrol perasaannya hingga tidak ada orang yang tahu. Dan sepertinya keputusan yang ia ambil untuk menyembunyikan perasaannya demi persahabatan mereka mulai ia sesali sekarang. Karena keputusannya tersebut Jiyeon tidak pernah tahu perihal perasaannya. Dan karena keputusan itu juga ia merasakan sakit dan perihnya sendiri. Taemin berjalan dengan lunglai di bawah guyuran hujan menuju rumahnya dan ia hanya dapat berharap agar rasa sakit yang tengah dirasakannya saat ini luntur bersama dengan air yang saat ini sedang berjatuhan dengan deras dari atas langit.

Sementara itu sedang terjadi keheningan di dalam mobil Sehun. Sehun hanya berkontrasi untuk menyetir karena hujannya sangat deras dan ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi jika ia lengah. Jiyeon sendiri hanya termenung memandangi hujan. Badannya sedikit gemetar menahan dingin karena keadaannya yang benar-benar basah kuyup. Ia mulai menggosok-gosokkan kedua tangannya berusaha untuk menghangatkan tubuhnya. Sehun yang tidak menyadari keadaan Jiyeon mulai menyadari kesalahannya karena membiarkan Jiyeon yang kedingina. Ia menepikan mobilnya sebentar dan mengambil jaketnya yang ada di jok belakang. Jiyeon hanya memandangnya dengan tatapan bingung. Setelah mendapatkannya ia langsung menyampirkan jaket tersebut ke bahu Jiyeon.

“Mian, aku baru sadar kalau kau kedinginan,” ucap Sehun merasa bersalah karena ketidak pekaannya.

“Aku tidak apa-apa, sekarang aku sudah merasa lebih baik. Gomawo untuk jaketnya,” ucap Jiyeon disertai dengan senyum manisnya. Sehun pun ikut tersenyum melihatnya.

“Bertahanlah, aku akan sampai ke rumah dengan cepat agar kau bisa mengganti pakaianmu,” ucap Sehun lalu mulai menjalankan mobilnya.

***

Akhirnya Sehun dan Jiyeon tiba di rumah. Hujannya pun belum kunjung reda. Saat Sehun berniat untuk mengajak Jiyeon untuk turun ternyata gadis itu tertidur. Tubuhnya terlihat sangat lemas, Sehun jadi tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya ia putuskan untuk menggendong Jiyeon ke dalam rumah. Ia membuka pintu mobil dan perlahan mengangkat Jiyeon dengan gaya bridal style.

Keadaan rumah begitu sepi, Sehun baru ingat kalau orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Pantas saja saat ia pulang lebih dulu dari Jiyeon tidak ada suara yang memarahinya karena mereka tidak pulang bersama. Sehun menaiki tangga dan membawa Jiyeon ke kamarnya. Kamar yang selama ini kosong berubah karena ada penghuni di dalamnya. Saat Sehun memasuki kamar itu aroma khas Jiyeon memasuki indra penciumannya. Perlu kalian ketahui bahwa Sehun sangat menyukai aroma yang berasal dari tubuh Jiyeon. Sehun membaringkan Jiyeon perlahan ke atas ranjangnya.

Saat itu ia tidak sengaja menyentuh tubuh Jiyeon dan sepertinya Jiyeon mengalami demam karena tubuhnya sangat panas saat bersentuhan dengannya tadi. Mungkin itu akibat keadaannya yang basah kuyup, pikir Sehun. Sehun menyentuh bahu Jiyeon dan menggoyangnya secara perlahan bermaksud untuk membangunkan gadis itu. Tapi gadis itu tidak kunjung membuka matanya, ternyata gadis itu tidak sadarkan diri. Sehun kebingungan karena di rumahnya benar-benar tidak ada orang dan hanya ada mereka berdua. Ia melihat ke arah Jiyeon. Gadis itu terlihat sangat kedinginan, dan Sehun tidak mungkin membiarkan gadis itu terus dalam keadaan basah.

Setelah ia berperang dengan berbagai pikiran tentang tindakan apa yang harus ia lakukan akhirnya Sehun memutuskan untuk mengganti pakaian Jiyeon. Ia tidak bermaksud untuk lancang atau mengambil keuntungan disaat seperti ini. Tidak sama sekali. Ia hanya tidak ingin membuat keadaan Jiyeon bertambah parah hanya itu saja. Ya, hanya itu. Walau mungkin nanti ia akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak—atau mungkin tepatnya belum saatnya ia lihat.

Sehun POV

‘Ah, kenapa dia harus tidak sadarkan diri disaat seperti ini?’ rutukku dalam hati.

Eomma dan Appa tiba-tiba saja ada urusan mendadak jadi mereka pergi begitu saja. Bahkan mereka lupa untuk memberitahuku. Kukira Jiyeon hanya teridur, ternyata ia tidak sadarkan diri dan tubuhnya pun sangat panas, sepertinya ia demam. Melihatnya seperti tiu aku jadi tidak tega. Aku tidak mungkin mengganti pakaiannya. Tapi lebih tidak mungkin lagi jika aku membiarkannya dalam keadaan basah seperti itu, diatambah lagi ia sedang demam. Akhirnya aku memutuskan untuk mengganti pakaiannya. Meskipun mungkin ia akan memarahiku saat sadar nanti karena bagaimanapun aku pasti akan melihat tubuhnya saat mengganti pakaiannya.

Dengan ragu aku mulai melucuti seragam yang masih menempel di tubuhnya. Dimulai dari blazernya, setelah blazernya sukses ku lepas aku mulai membuka kancing kemejanya satu-persatu. Tiba-tiba saja aku menjadi berdebar saat akan melepas kemejanya. Karena bagaimanapun aku tetap seorang pria normal. Aku bahkan harus menahan nafasku saat melepasnya dan kini hanya tertinggal branya saja di bagian atas tubuhnya. Apa aku harus mengganti branya juga?

Setelah menyingkirkan pikiran bodohku aku putuskan hanya mengganti pakaian luarnya saja, tidak untuk pakaian dalamnya. Karena aku tidak berani melihat tubuhnya lebih jauh lagi. Aku membuka lemari pakaiannya dan memilih baju rajut karena terlihat hangat dan juga celana panjang. Setelah itu aku kembali menghampiri Jiyoen dan mulai memakaikan pakaiannya. Aku menyentuh keningnya dan ternyata masih panas. Aku ke luar kamarnya untuk membuatkan bubur setelah menyelimutinya lebih dulu.

Aku berjalan ke dapur lalu mencari bahan-bahan yang bisa aku gunakan untuk membuat bubur. Saat Ibuku sakit aku selalu membuatkan bubur untuknya, siapa yang sangka aku bisa seperti itu? Hahaha. Yah, meskipun aku bisa dibilang nakal tapi aku tetap menghormati orang tuaku terlebih Ibuku.

Aku mulai mencuci beras lalu setelah itu aku meletakannya ke dalam panci dan aku menaruhnya di atas kompor. Karena waktu yang dibutuhkan cukup lama sebelum buburnya matang, aku duduk di kursi yang ada di dapur sambil membaca majalah untuk menghilangkan rasa bosan. Dan ku harap Jiyeon sudah bangun setelah buburnya matang.

Setelah buburnya matang aku memasukkan sebagian ke dalam mangkuk yang sudah kuletakkan di atas nampan beserta air putih. Lalu aku membawanya ke kamar Jiyeon agar dia memakannya lalu meminum obat. Saat aku di berada di depan kamarnya aku langsung masuk dan ternyata Jiyeon sudah sadar.

Jiyeon POV

Aku mengerjapkan mataku dan tiba-tiba rasa sakit muncul di kepalaku secara perlahan. Aku mencoba memijit keningku dan saat aku menyentuhnya aku merasakan panas di tanganku. Kenapa badanku panas? Apa aku sakit? Aku mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi dan aku baru sadar saat di sekolah Soyi menyiramku dengan air pel. Dan saat aku pulang di luar sedang hujan tapi aku berlari menuju halte begitu saja karena keadaanku memang sudah basah. Lalu saat sedang menunggu bus Sehun datang menjemputku. Dan saat di mobil ia meminjamkan jaketnya karena aku kedinginan.

Tunggu. Aku baru sadar kalau aku memakai pakaian santai sekarang, sepertinya aku tidak mengganti seragamku. Lalu siapa yang mengganti pakaianku? Saat aku sedang bertanya pada diriku sendiri kulihat pintu kamarku terbuka dan muncul Sehun dibaliknya sambil membawa nampan yang berisi bubur dan air. Ia juga menggenggam sesuatu, apa itu obat? Untuk apa?

“Kau sudah sadar rupanya? Makan bubur ini lalu minum obat, kau demam.” Ucapnya sambil menyentuh keningku lalu ia meletakkan nampannya di atas pangkuanku.

“Sehun-ah, bukankah tadi aku masih memakai seragam? Siapa yang sudah mengganti pakaianku?” tanyaku padanya. Ia sedikit tersentak saat aku mengatakan hal itu. Ada apa memangnya?

“Ah, itu, itu, yang mengganti pakaianmu aku,” ucapnya terbata-bata.

“Oh, gomawo,” ucapku padanya. Lalu aku mulai memakan bubur yang sudah disiapkan Sehun untukku. Saat aku mulai makan aku mencerna kalimat Sehun. Dia yang mengganti pakaianku. Tunggu. Yang mengganti pakaianku SEHUN???

“Mwo? Kau yang mengganti pakaianku? Ya! Lancang sekali kau kau Oh Sehun!” ucapku yang baru tersadar akan kalimat Sehun. Aku memukul kepalanya menggunakan sendok yang ada di tanganku.

“Ya! Jangan memukul kepalaku, sakit tahu! Itu kulakukan karena kau terlihat sangat kedinginan. Aku tidak tega melihatmu. Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena aku sudah mau repot menolongmu bahkan aku memasakkanmu bubur,” ucapnya panjang lebar.

“Tapi tetap saja perbuatanmu itu lancang, bagaimana bisa kau mengganti pakaian seorang gadis? Jadi itu artinya kau sudah melihat tubuhku kan? Kyaaa, eomma aku sudah kotor” teriakku histeris sambil memukuli bahu Sehun.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Lagi pula kitakan akan menikah, jadi tidak apa-apa jika aku melihat tubuhmu,” ucapnya sambil berusaha menghentikan pukulanku.

“Tutup mulutmu Oh Sehun, aku benci padamu, benci, benci,” kataku yang masih memukulinya.

“Ya, ya, terserah kau mau bilang apa. Kau boleh melihat tubuhku juga supaya adil,” ucapnya sambil menunjukkan smirk kebanggaannya itu. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya ia menggodaku. Dasar.

“Diam kau, aku sama sekali tak berniat untuk melihat tubuh kurusmu itu,” ucapku.

“Benarkah? Ah, aku baru ingat kalau kau sudah melihat tubuhku saat pertama kali kau pindah ke sini, wajahmu saat itu sangat merah seperti kepiting,” ucapnya sambil tertawa. Benar juga yang ia katakan, tapi aku melihatnya secara tidak sengaja. Mengingat hal itu membuat wajahku memerah.

TAP

Saat aku ingin memukulnya kembali ia menangkap tanganku dan langsung mendorongku hingga terbaring. Aku sangat terkejut karena Sehun tiba-tiba sudah berada di atasku. Aku bahkan tidak sadar jika nampan yang berisikan bubur tadi sudah tidak di pangkuanku lagi. Dan tiba-tiba saja rasa takut menghampiriku. Apa yang akan dia lakukan?

Saat aku ingin memberontak ia langsung menarik kedua tanganku ke atas kepalaku dan memegangnya hanya dengan satu tangan. Aku membelalakkan mataku saat tangannya yang bebas menyentuh leherku.

“Mau apa kau?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Wae? Kau takut padaku?” jawabnya yang malah bertanya. Matanya tepat menatap mataku. Dan kini tangannya mulai mengusap leher hingga bahuku. Aku sedikit menggelinjang karena sentuhannya. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku langsung menutup mataku rapat-rapat karena tidak ingin melihat apa yang akan dia lakukan.

“Jiyeon-ah, apa kau menyukaiku?” bisiknya tepat di telingaku. Setelah itu ia menghembuskan nafasnya ke leherku, aku agak menjauh saat dia melakukan hal itu.

BRAKKK

“Ya! Apa yang kalian lakukan???” ucap eommonim yang tiba-tiba menggelegar di kamarku. Aku langsung mendorong tubuh Sehun yang berada di atasku. Sehun juga terlihat sama terkejutnya denganku. Eommonim sudah berdiri di ambang pintu kamarku dengan mata melotot karena terkejut.

“Eommonim, kami tidak melakukan apapun. Sungguh,” ucapku berusaha meyakinkannya.

“Tidak melakukan apapun? Lalu yang kulihat tadi itu apa? Benar-benar sulit dipercaya,” ucanya sambil menggelengkan kepalanya.

“Kami memang tidak melakukan apapun, jangan salah paham Eommonim,” ucapku. Aku mencubit Sehun agar ia ikut menjelaskan yang sebenarnya. Tapi ia hanya melihatku dan tidak berbicara apapun.

“Acara pertunangan kalian hari Sabtu nanti kita batalkan. Tidak akan ada acara pertunangan. Kami akan langsung menikahkan kalian pada hari Sabtu, jadi bersiaplah,” ucapnya.

“MWO???”

Saat aku ingin protes Eommonim langsung pergi meninggalkan kami begitu saja dalam keadaan terkejut.

***

Author POV

Keesokan harinya mereka berdua—Sehun dan Jiyeon tetap sekolah seperti biasanya. Jiyeon sudah siap dengan seragamnya. Tapi ia terlihat lemas. Ia tidak bisa tidur karena ucapan Ibu Sehun yang terus mengiang di telinganya. Setelah mengambil tasnya Jiyeon melangkahkan kakinya menuju pintu. Dan lagi-lagi disaat yang bersamaan Sehun melakukan hal yang sama pula. Sehun menatapi Jiyeon sekilas dan langsung turun begitu saja seolah-olah tidak ada hal apapun yang terjadi kemarin. Jiyeon menghembuskan nafasnya secara kasar dan ikut turun menuju meja makan.

Sesampainya di sana ternyata semua penghuni rumah sudah duduk di kursinya masing-masing. Jiyeon pun mendudukkan dirinya di kursi yang biasa ia pakai. Ia  melirik ke arah Sehun. Lagi-lagi Sehun bersikap acuh seperti saat setelah ia mencium Jiyeon. Dan sikapnya yang seperti itu membuat Jiyeon sangat bingung. Belum lagi pertanyaan terntang apakah ia menyukainya atau tidak yang ia tanyakan kemarin. Dan gara-gara insiden itu membuat pernikahan mereka dipercepat.

Jiyeon benci saat Sehun bersikap acuh seperti itu padanya. Ia memakan makanannya dengan kesal. Jiyeon mengaduk nasinya dengan kasar sebelum akhirnya berakhir di dalam mulutnya. Sehun hanya memperhatikannya dalam diam.

“Istriku sudah menceritakan tentang kejadian kemarin dan aku menyetujui rencananya. Kami akan membicarakan hal ini dengan orang tua Jiyeon. Dan kalian hanya perlu mempersiapkan diri, tidak usah memikirkan apapun. Fokus saja pada sekolah kalian,” ucap Ayah Sehun. Setelah mengatakan itu ia langsung bangkit dari kursinya diikuti Ibu Sehun dan berjalan menuju pintu keluar.

Sehun dan Jiyeon terdiam beberapa saat hingga akhirnya mereka berdua berjalan menyusul orang tua Sehun. Sehun berjalan ke parkiran untuk mengambil mobilnya sementara Jiyeon menunggu di dekat gerbang. Saat mobil Sehun berhenti tepat di sampingnya ia langsung masuk, tidak lupa untuk menggunakan safety belt-nya. Mobil Sehun pun berjalan meninggalkan rumah.

“Hhh, kenapa pernikahannya dipercepat? Ini semua gara-gara Sehun sialan, bahkan ia terlihat santai sekali mengenai hal ini, huh” gumam Jiyeon pelan tapi masih bisa didengar oleh Sehun.

“Wae? Kau tidak suka menikah denganku?” tanya Sehun mengagetkan Jiyeon.

Jiyeon hanya mendelik kesal ke arah Sehun dan langsung membuang wajahnya ke arah jendela tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Sehun tersenyum tipis melihat tingkah Jiyeon.

“Seharusnya kau senang bisa menikah denganku, kenapa malah bersikap seperti itu?” ucap Sehun mencoba menggoda Jiyeon. Tapi Jiyeon hanya diam saja tanpa berniat untuk menanggapi pertanyaan Sehun.

Sehun melihat ke arah Jiyeon yang hanya diam saja tanpa menanggapi omongannya. Biasanya gadis itu akan membalas setiap ucapan yang dilontarkannya. ‘Ada apa dengan gadis ini?’ pikirnya.

Sepanjang jalan Jiyeon terus mengacuhkan Sehun yang ingin memulai pembicaraan dengannya. Jiyeon hanya menatap ke luar jendela terus-menerus. Sehun mengambil tangan Jiyeon dan meletakkannya di atas gagang pedal gigi mobilnya sambil terus menyetir. Jiyeon berusaha melepaskan tangannya tapi Sehun menahannya dan menggenggamnya semakin erat.

“Lepaskan tanganku!” ucap Jiyeon dingin.

“Wae? Ada apa denganmu? Kenapa bersikap seperti itu padaku? Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya melirik sekilah ke arah Jiyeon dan melanjutkan menyetir.

“Kenapa katamu? Berhentilah bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun Oh Sehun,” setelah berkata seperti itu Jiyeon langsung menarik tangannya kasar dan genggaman Sehun pun terlepas.

“Memang apa yang sudah terjadi?” tanya Sehun dengan bodohnya.

“Apa yang sudah terjadi katamu? Banyak hal yang sudah terjadi kepada kita kau tahu? Kau sudah menciumku bahkan sudah melihat tubuhku, kau melakukan semuanya tanpa persetujuan dariku. Dan kau bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun, dan itu membuatku bingung. Atas dasar apa kau menciumku huh?” tanya Jiyeon yang terengah-engah setelah ia meluapkan emosinya. Dan ia menjadi sedikit lega karena telah mengatakan hal tersebut karena memang itu yang ingin Jiyeon tanyakan.

“Jadi karena itu kau seperti ini? Bukankah sudah jelas karena apa aku melakukan itu semua?” tanya Sehun pada Jiyeon sambil menatap lurus ke arah Jiyeon mereka kini sudah sampai di parkiran sekolah.

“Jelas apanya? Memang karena apa? Kalau kau tidak mengatakannya mana mungkin aku tahu,” ucap Jiyeon. Ia membuka safety belt-nya bermaksud ingin segera keluar dari mobil. Sebelum tangannya menyentuh gagang mobil Sehun menarik tangan lebih dulu membuat Jiyeon refleks membalikkan badannya.

Dan saat itu pula Sehun langsung menempelkan bibirnya tepat di bibir Jiyeon. Jiyeon melebarkan matanya selebar mungkin. Ini kedua kalinya mereka berciuman. Sehun mengarahkan tangannya ke wajah Jiyeon dan menangkup kedua pipinya. Ia menyedot bibir Jiyeon dengan kuat membuat Jiyeon kesulitan bernafas.

Han Soyi yang memang selalu setia menunggu di parkiran setiap pagi menganga tidak percaya dengan apa yang telah di lihatnya begitupun dengan kedua temannya. Soyi mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan emosinya sebisa mungkin.

‘Gadis itu benar-benar tidak takut terhadap ancamanku, apa perlakuanku kurang sadis?’ pikir Han Soyi.

Taemin yang memang sengaja menghampiri mobil Sehun untuk mengajak Jiyeon ke kelas bersama tidak kalah terkejutnya dengan Soyi. Dan hal ini jauh lebih menyakitkan dari pada melihat Sehun yang mendahuluinya untuk menjemput Jiyeon kemarin. Rasa sakit yang ia alami kemarin bahkan belum sembuh dan ia malah mendapatkan rasa yang jauh lebih sakit sekarang. Seandainya saja ia berjalan lebih dulu menuju kelasnya sendiri. Seandainya saja ia tidak menghampiri Sehun. Dan seandainya saja Jiyeon tidak bertemu dengan Sehun. Dan seandainya saja ia mengatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Jiyeon. Dan masih banyak kata-kata seandainya yang ada dipikiran Taemin. Akhirnya Taemin memutuskan untuk pergi ke kelasnya lebih dulu tanpa menyapa Jiyeon.

‘Park Jiyeon. Sepertinya kau ingin menguji sejauh mana kesabaran yang kumiliki. Dan sepertinya kesabaranku sudah berada di ambang batasnya. Baiklah kalau itu maumu, aku akan memberikan pelajaran berharga yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu karena kau sudah berulang-ulang membantah ucapanku. Kita lihat saja apa yang akan aku lakukan untukmu nanti,’ setelah itu Soyi pergi meninggalkan tempat parkir diikuti kedua temannya yang masih setia menemaninya menguntit Sehun.

Sementara itu dua orang yang masih saling menempelkan bibirnya akhirnya menyudahi kegiatan tersebut. Sehun menatap Jiyeon tajam masih dengan memegang kedua pipinya.

“Aku menyukaimu, itulah alasanku melakukannya Park Jiyeon,” ucap Sehun mantap. Kemuadian ia langsung ke luar dari mobilnya dan meninggalkan Jiyeon sendiri yang masih belum tersadar dari keterkejutannya karena tindakan sekaligus ucapan Sehun barusan.

Perlahan namun pasti Jiyeon mulai kembali pada dunia nyata. Ia menepuk-nepuk pipinya dan berharap itu semua hanya ilusinya semata. Tapi harapannya tidak terkabul. Dan semua yang ia alami adalah kenyataan. Dan perlahan sebuah senyuman mengembang di wajahnya saat mengingat pernyataan Sehun padanya. Pipinya memanas, ia merasa wajahnya akan hangus sebentar lagi.

***

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat saat ini semua murid sedang beristirahat untuk melampiaskan segala macam rasa yang mereka alami karena terus-terusan mendengarkan penjelasan guru sejak pagi. Begitu pula dengan Jiyeon beserta Sulli dan Taemin mereka sedang menikmati acara istirahat yang diselingi dengan berbagai macam obrolan. Taemin berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan kedua sahabatnya ini. Ia tidak ingin mengingat kejadian tadi pagi yang membuatnya down. Namun saat Jiyeon menceritakan perihal pernikahannya yang akan diadakan pada Sabtu minggu ini membuat Sulli dan Taemin terkejut bukan main.

“Mwo? Kau akan menikah dengan Sehun pada hari Sabtu? Benarkah?” Tanya Sulli yang masih belum percaya pada apa yang dikatakan oleh Jiyeon.

“Ne, Sulli-ah itu benar dan aku ingin kalian berdua datang saat acara pernikahanku nanti. Jebal…” Jiyeon memohon pada mereka berdua dengan mengeluarkan puppy eyes-nya.

“Ne, ne, kami akan datang. Tidak usah memasang ekspresi seperti itu, menjijikan,” ucap Sulli sambil mengedikkan bahunya ke atas. Jiyeon hanya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Sulli. Sedangkan Taemin hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua sahabatnya itu.

Jiyeon memang menceritakan tentang rencana pernikahannya yang terkesan—ralat bahkan sangat mendadak kepada Sulli dan Taemin tapi tidak dengan alasan mengapa pernikahan tersebut sampai bisa diadakan dengan cepat seperti ini. Bahkan tadi Ibu Sehun menelponnya dan menyuruhnya untuk fitting gaun pernikahannya. Ia menyuruh Jiyeon ke toko yang ia sebut saat di telpon. Di sana Ibu Sehun dan Ibunya sendiri akan menunggu kedatangan Jiyeon. mereka meyuruh Jiyeon datang seusai sekolah nanti.

Seperti biasa jika saat waktu istirahat di tempat yang tidak jauh dari mereka Han Soyi sibuk untuk mendekati Sehun dan Sehun terlihat sangat sibuk untuk melepaskan diri dari Soyi yang selalu menempel padanya seperti ini.

“Sehun-ah, jebal kali ini pulang bersamaku ne?” ucapnya dengan nada semelas mungkin.

“Aku tidak bisa,” ucap Sehun singkat yang masih mencoba melepaskan tangan Soyi yang menggelayut di lengannya.

“Wae? Kenapa selalu tidak bisa? Dan kenapa kau selalu pulang bersama dengan gadis itu?” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya berpura-pura kesal. Kai yang memang ada di situ hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Soyi.

“Itu bukan urusanmu,” ucap Sehun dingin.

“Kumohon pulanglah bersamaku sekali ini saja, ne?” ucap Soyi yang masih memohon kepada Sehun.

“Tidak bisa,” jawab Sehun yang lagi-lagi singkat. Saat Soyi ingin berbicara tiba-tiba Kai menyela pembicaraan mereka.

“Sepulang sekolah nanti Sehun akan menemaniku pergi, jadi dia tidak bisa pulang bersamamu,” ucap Kai mencoba menolong Sehun.

“Benarkah? Kalau begitu kita pulang bersama lain kali saja ya Sehun-ah,” ujar Soyi sambil menggoyang-goyangkan lengan Sehun dengan manja. Sehun membuang wajahnya ke arah lain sambil mendengus kesal. Dan saat itu matanya menatap tepat ke arah Jiyeon yang juga sedang menatapnya saat ini. Jiyeon yang tersadar segera mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan salah tingkah. Sementara Sehun hanya tersenyum melihatnya. Waktu istirahat sudah habis, para murid pun bergegas menuju kelasnya masing-masing.

Bel pulang pun akhirnya berbunyi, kelas Jiyeon mulai sepi ditinggal para penghuninya dan hanya tersisa beberapa murid saja termasuk dirinya dan Sulli. Jiyeon sudah mengatakan pada Sulli dan Taemin bahwa ia akan langsung ke tempat di mana Ibunya dan Ibu Sehun berada untuk fitting gaun pengantin sehingga ia tidak bisa pulang bersama dengan mereka. Seperti hari-hari kemarin, Taemin sudah bertengger dengan manis di depan pintu kelas mereka saat pulang tiba.

Jiyeon dan Sulli berjalan menghampiri Taemin yang sudah menunggu mereka. Lalu mereka berjalan bersama melewati koridor. Sehun hanya melihat mereka dari jauh. Kai merangkul pundaknya dan berjalan bersama di belakang mereka bertiga.

Mereka semua sudah tiba di tempat parkir, Jiyeon memerintahkan Taemin dan Sulli pulang lebih dulu karena ia akan pergi untuk fitting gaun pengantin. Jiyeon melihat Sehun yang sepertinya sedang menunggunya, ia menghampiri Sehun perlahan dengan perasaan gugup.

“Kau pulang saja, hari ini kita tidak bisa pulang bersama,” ucap Jiyeon tanpa memandang Sehun.

“Wae? Kenapa tidak mau pulang bersamaku?” tanya Sehun bingung sambil menyernyitkan keningnya.

“Bukan seperti itu, Eommonim menyuruhku pergi ke sebuah tempat untuk fitting gaun pernikahan kita nanti,” ujar Jiyeon pelan. Ia agak malu saat menyebut kata ‘pernikahan kita’.

“Oh, mau kuantar?” tawar Sehun.

“Mwo? Kalian akan menikah? Benarkah?” tanya Kai histeris. Ia muncul begitu saja di belakang mereka berdua. Ternyata Kai mendengarkan pembicaraan antara Jiyeon dan Sehun sejak tadi. Sehun lupa kalau  ‘makhluk ini’ bersamanya tadi. Jiyeon sangat terkejut dengan kemunculan Kai yang tiba-tiba. Apalagi ia mendengar pembicaraannya dengan Sehun. Ia takut Kai akan memberitahu temannya yang lain jika mereka akan menikah. Disaat Jiyeon sedang panic Sehun dapat mengontrol emosinya dengan cepat.

“Ne,” jawab Sehun singkat.

“Jadi itu benar? Kenapa kalian bisa menikah? Ah, Jiyeon jangan-jangan kau sedang hamil,” ucap Kai.

“Mwo? Aku tidak hamil!” bantah Jiyeon sambil menatap Kai dengan horror.

“Tutup mulutmu bodoh,” ucap Sehun sambil menjitak kepala Kai dengan keras.

“Kalau bukan karena hamil lalu kenapa?” tanya Kai heran.

“Akan kujelaskan nanti, jadi tutup saja mulutmu jangan menyebarkannya pada yang lain,” ucap Sehun.

“Baik, baik, tapi kalian harus mengundangku ke acara pernikahan kalian. Kalau tidak aku akan menceritakan kepada yang lain kalau kalian menikah,” ancam Kai.

“Ne, aku akan mengundangmu tenang saja,” ucap Sehun malas. Enatah kenapa Kai sangat senang karena akan diundang ke pernikahan mereka.

“Lalu kapan kalian menikah?” tanya Kai penasaran.

“Hari Sabtu,” jawab Jiyeon.

“Mwo? Hari Sabtu? Jadi lusa kalian menikah? Astaga cepat sekali,” ucap Kai dengan ekspresi terkejut.

“Tapi aku akan tetap hadir saat pernikahan kalian nanti, kapan pun kalian akan menikah,”ucap Kai sambil menepuk-nepuk bahu Jiyeon. Sehun langsung menyingkirkan tangan Kai saat melihatnya dan melotot ke arah Kai. Kai hanya tertawa melihat reaksi Sehun.

“Kalau begitu aku pergi,” ucap Jiyeon dan membalikkan badannya. Tapi tangan Sehun menahannya.

“Aku akan mengantarmu,” ucap Sehun.

“Tidak perlu, aku pergi sendiri saja,” ucap Jiyeon sambil melepas pegangan Sehun di lengannya.

“Ya! Saat istirahat tadi kan aku sudah bilang bahwa kau akan menemaniku pergi ke suatu tempat. Aku mengatakan itu bukan semata-mata untuk membantumu dari Han Soyi. Ayo kita pergi, annyeong Jiyeon-ah,” ucap Kai sambil melambaikan tangannya. Jiyeon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kai yang tidak ia duga sama sekali. Jiyeon pun mulai berjalan meninggalkan sekolah.

***

Tidak terasa hari pernikahan Sehun dan Jiyeon pun tiba. Mereka berdua sedang sibuk di make up oleh penata rias. Sulli, Taemin dan Kai sudah datang dan sedang menunggu kedua pengantin yang masih di make up. Tidak lama Sehun muncul di hadapan mereka dengan setelan tuxedo berwarna putih. Sulli sampai terpesona melihatnya, tapi ia buru-buru menggelengkan kepalanya. ‘Ingat Sulli, dia itu calon suami sahabatmu,’ ucapnya dalam hati.

Sementara itu para penata rias sedang sibuk menata rambut Jiyeon. Sulli menyuruh para pria tersebut pergi ke ruang pernikahan lebih dulu, sementara ia akan menunggu Jiyeon hingga siap.

Tidak lama akhirnya Jiyeon siap dengan gaun indah yang menempel di tubuhnya. Sulli yang melihatnya tidak bisa berhenti untuk memuji betapa cantiknya Jiyeon saat ini. Ayah Jiyeon sudah menunggu sejak tadi dan mengulurkan tangannya pada Jiyeon. Mereka berjalan bersama untuk mencapai altar diikuti Sulli yang mengekor di belakang mereka.

Jiyeon sangat tegang saat mereka sampai di depan pintu di mana altar tersebut berada. Ayahnya menggenggam tangannya erat seolah mengerti apa yang ia rasakan. Perlahan pintu mulai terbuka dan muncul sosok Sehun yang sudah berdiri di altar dengan menggunakan tuxedo yang berwarna senada dengan gaunnya. Sehun dan Jiyeon sama-sama terpesona melihat penampilan masing-masing. Jiyeon menggunakan gaun putih panjang dengan bagian atas tanpa lengan memperlihatkan bahunya. Rambutnya digerai dan dibuat ikal membuatnya bertambah cantik.

Setelah mereka sampai di depan altar Ayah Jiyeon menyerahkan tangan putrid satu-satunya itu kepada Sehun.

“Jaga putriku baik-baik,” ucap Ayah Jiyeon dengan mata berkaca-kaca. Jiyeon yang melihatnya jadi ingin menangis tapi sebisa mungkin ia tahan.

“Tentu, aku pasti akan menjaganya dengan baik Aboeji,” jawab Sehun penuh keyakinan.

Acara pengikraran janji pengantin berjalan dengan lancar. Dan diakhiri dengan ciuman. Sehun menatap jiyeon nakal sebelum ia mencium gadis itu. Suara sorakan pun bergema memenuhi gedung resepsi itu. Sulli terharu melihat mereka berdua begitu pun dengan Kai. Sementara Taemin memaksakan diri untuk mempilkan seulan senyum di bibirnya walaupun sangat terlihat jelas ia sedang terluka dari sorot matanya.

Di tempat lain seorang gadis sedang sibuk untuk memilih gaun yang akan ia gunakan, gadis tersebut adalah Han Soyi. Ayahnya baru memeritahunya bahwa mereka akan datang ke acara pernikahan kenalannya semalam. Soyi belum sempat mempersiapkan apapun, jadi beginilah ia kewalahan saat akan berangkat ke tempat resepsi. Ia belum menyiapkan gaunnya, bahkan sepatunya juga. Setelah mengobrak-abrik isi lemarinya ia menemukan gaun yang menurutnya cocok untuk ia kenakan. Kini ia hanya perlu mencari sepatunya, dan untungnya tidak memerlukan waktu yang lama seperti saat ia memilih gaun.

Ayahnya sudah menunggu Soyi sejak tadi. Ia yakin pasti Ayahnya akan memarahinya karena mereka sudah terlambat. Dan bahkan upacara pengikraran janji antara pengantin pun sudah usai.

Setelah Ayahnya puas memarahinya mereka segera berangkat ke tempat resepsinya. Dan benar saja, setelah mereka sampai upacara pengikraran sudah dilaksanakan sebelum mereka datang. Ayah Soyi megajaknya dan juga Ibunya untuk menemui rekannya tersebut dan meminta maaf atas keterlambatan mereka yang diakibatkan oleh Soyi.

Rekan Ayah Soyi yang ternyata merupakan Ayah Sehun pun memakluminya. Mereka berbincang sedikit sebelum akhirnya pergi untuk menemui orang yang menjadi pengantin pada hari ini. Soyi tidak memperhatikan saat mereka berjalan menemui kedua pengantin tersebut. Dan ia sangat terkejut ketika mendongakkan kepalanya dan melihat pasangan pengantin yang ada di hadapannya kini.

“K-kalian, kenapa bisa???” Tanya Soyi terbata dengan wajah syok luar biasa.

.

.

.

_My Marriage Is_

TBC

 

____________________________________________

Ini dia part 5-nya, semoga kalian suka ya,

maaf kalau kalian kecewa sama part ini.

Kritik dan saran ditunggu,

Jangan lupa Komentarnya ya ^^

____________________________________________

158 Comments

  1. Ternyata sehun yg datang duluan yg jemput jiyeon,,wah mrk satu sm ya tp bedanya jiyeon ga sengaja liat tubuh sehun waktu mau pinjem piyama kl sehun terpaksa karena ga ada orang drmhnya..
    Padahal dulu eomma sehun pingin mrk tunangan dulu,tp gara” kejahilan sehun mrk lngsng dnikahin..
    Gimana tuh reaksi han soyi stlh tau kl sehun dan jiyeon yg nkh,apa msh tetep ngejar” sehun

    Like

    Reply

  2. astgaaaa koq si han soyi juga dtng sihh astgaaaa -_- haduhhh gmna donggg?? haaaahh bahayaaa_- .. dududuhh ksian taemin😦 .. tpi slamat yya buat seyeon hahah😀 .. mau lanjut ne😉

    Like

    Reply

Comment, comment~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s