[3rd Scene] My Marriage Is…


| Tittle My Marriage is … Part 3 | Author Yaumila |

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Lee Taemin  – Han Soyi (OC) – Choi Sulli – And other’s |

| Rating PG | Genre Shool Life, Marriage Life | Length Main Chapter |

Poster by : ©Mekeyworld

 

 

Disclaimer :

Para tokoh yang ada di FF ini milik Tuhan. Cerita ini murni hasil imajinasi saya.

 

.

.

.

 

 

Author POV

 

Sehun dan Jiyeon sedang dalam perjalan menuju rumah keluarga Sehun. Suasana di dalam mobil begitu hening dan tak ada percakapan diantara mereka. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Hal penting apakah yang akan dibicarakan oleh orang tua mereka nanti. Itulah yang sedang mereka pikirkan saat ini.

 

“Kenapa kau menerima perjodohan ini?” tanya sehun memecah keheningan.

 

“Mungkin karena aku tidak ingin mengecewakan Ayahku. Selama ini mereka tidak pernah menuntut apapun dariku, jadi kurasa tidak ada salahnya untuk menuruti permintaan mereka. Kau sendiri bagaimana? Apa kau menerimanya?”

 

Sehun menghela nafas sejenak, “Mau bagaimana lagi, Ayahku sangat memaksaku untuk menerima perjodohan ini. Mungkin dia sudah frustasi menghadapi ulahku, hahaha. Alasan yang kau ucapkan tadi juga termasuk ke dalam pertimbanganku untuk menerima perjodohan ini. Meskipun kelakuanku yang bisa dibilang nakal aku juga masih memikirkan perasaan orang tuaku,” jawab Sehun.

 

Jiyeon tersenyum mendengar perkataaan Sehun, “Ternyata sifatmu tidak terlalu buruk karena kau masih memikirkan perasaan orang tuamu. Lalu kenapa kau menjadi anak nakal dan malah membuat orang tuamu frustasi dengan tingkahmu itu?” tanya Jiyaon lagi.

 

“Aku hanya ingin menikmati masa sekolahku, karena menjadi anak baik itu membosankan. Lagi pula kelakuanku hanya sebatas kanakalan anak sekolah saja. Aku memang pernah pergi ke club malam tapi aku tidah pernah bermain dengan perempuan di sana, Ayahku tidak percaya saat aku mengatakan hal itu. Aku ini masih polos, kau tahu?” ujar Sehun percaya diri.

 

“Tapi tetap saja namanya nakal. Kau ini percaya diri sekali, di mana letak kepolosanmu itu?” tanya Jieon.

 

“Tentu saja aku masih polos, karena aku belum tersentuh perempuan manapun. Apa kau ingin menjadi perempuan pertama yang ku sentuh, eoh?” tanya Sehun menggoda.

 

“Mwo? Aku tidak sudi disentuh pria sepertimu,” ucap Jiyeon sambil menjulurkan lidahnya ke arah Sehun lalu mengalihkan pandangannya ke jendela.

 

“Kau yakin? Tidak lama lagi kita akan menjadi suami istri, pasti nanti kau duluan yang memintaku untuk menyentuhmu,” ujar Sehun sambil tertawa.

 

Tanpa terasa mereka sudah tiba di kediaman keluarga Sehun. Rumahnya sangat megah dan mewah. Itu bukanlah hal yang aneh mengingat Ayah Sehun adalah seorang Presdir sebuah perusahaan ternama.

 

“Ya! Jangan bicara seenaknya, aku bukan perempuan seperti itu. Bukankah kita sudah sampai? Ayo cepat turun, orang tua kita pasti sudah menunggu,” ucap Jiyeon lalu langsung ke luar dari mobil dengan wajah yang memerah akibat perkataan Sehun tadi.

 

Sehun pun menyusul Jiyeon memasuki rumahnya masih dalam keadaan tertawa karena berhasil menggodanya hingga wajah Jiyeon merah padam.

 

***

 

Jiyeon POV

 

‘Aish, sialan kau Sehun berani sekali menggodaku’ rutukku dalam hati.

 

Kami sudah tiba di kediaman keluarga Sehun. Rumahnya luar biasa sekali, aku tidak bisa berkata apa-apa karena terlalu kagum. Aku masuk kedalam lebih dulu lalu diikuti Sehun yang ada di belakangku. Ku lihat orang tua kami sudah berkumpul di ruang tamu.

 

“Akhirnya kalian datang juga, kami sudah lama menunggu kedatangan kalian,” ujar Ibu Sehun.

 

“Mianhae Ahjumma kami datang terlambat,” ucapku sambil membungkukkan badan. Sedangkan pria menyebalkan itu (read : Sehun) berjalan begitu saja dan langsung duduk di kursi yang masih kosong.

 

“Tidak apa-apa Jiyeon-ah. Jangan memanggilku Ahjumma sebentar lagikan kau akan menjadi menantuku. Panggil Eommonim saja ne?” ujar Ibu Sehun—lagi.

 

“Baik Eommonim,” ucapku sambil tersenyum.

 

“Langsung ke intinya saja, apa yang ingin kalian bicarakan?” tanya Sehun. Anak ini tidak sopan sekali sih, ckck.

 

“Sebenarnya kami menyuruh kalian datang kemari karena ingin membicarakan tentang pertunangan kalian yang akan diadakan lusa bertepatan hari sabtu. Kalian setuju kan?” tanya Ayahku.

 

“Mwo? Kenapa cepat sekali?” tanyaku kaget.

 

“Karena lebih cepat akan lebih baik,” jawab Aboeji—appa Sehun.

 

Aku hanya menghela nafas, kalau sudah ditentukan begini bagaimana kami bisa menolaknya. Aku melirik ke arah Sehun dan ternyata dia juga sedang memandang ke arahku. Dia memandang ke arahku seolah-olah sedang bertanya ‘Bagaimana?’. Aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku pasrah.

 

“Baiklah terserah kalian saja,” jawab Sehun.

 

“Ah, syukurlah kalian menerimanya,” ucap Ibuku sambil tersenyum. Sesenang itukah mereka?

 

“Karena sebentar lagi kalian akan bertungan kami memutuskan agar Jiyeon untuk sementara waktu tinggal di rumah kami hingga kalian menikah, bagaimana Jiyeon-ah?” tanya Eommonim. Aku terkejut mendengarnya. Saat aku ingin menolak tiba-tiba Ayahku langsung berbicara.

 

“Ne Jiyeon-ah, sebentar lagi juga mereka kan  akan menjadi keluargamu tidak apakan nak?” tanya Ibuku sambil menggenggam tanganku.

 

“Ne, aku akan tinggal di sini,” ucapku menyanggupi permintaan mereka dengan terpaksa. Tidak lupa memberikan senyumku.

 

“Eomma akan mengirimkan baju-bajumu nanti,” ujar Ibuku dan kubalas dengan anggukan.

 

“Gomawo Jiyeon-ah karena bersedia untuk tinggal di sini. Lebih baik kalian segera istirahat, besok kan kalian harus sekolah. Sehun-ah, ajak Jiyeon ke kamar yang ada di sebelah kamarmu. Eomma sudah membereskannya tadi pagi,” ujar eommonim.

 

“Kalau begitu kami permisi dulu,” jawab Sehun sambil menyeretku ke lantai atas.

 

“Tidakku sangka ternyata mereka sudah sedekat itu,” ujar Aboeji dan di sertai suara tawa para orang tua itu.

 

“Ya! Kenapa kau menyeretku? Aku bisa jalan sendiri, tidak usah kau seret seperti itu,” ucapku setelah kami tiba di lantai atas.

 

“Aku hanya tidak ingin berlama-lama di sana. Ini kamarmu dan yang di sebelahnya kamarku. Kalau kau butuh sesuatu panggil aku saja, aku ingin istirahat dulu,” ucap Sehun dan langsung berjalan menuju kamarnya. Dia memiliki sisi baik juga rupanya.

 

Aku  membuka pintu yang ada di hadapaku. Aku tercengang melihat ruangan yang akan menjadi kamarku ini, interiornya kamarnya sangat indah. Kamar ini begitu bagus dan luas melebihi kamarku sendiri. Keluarga Sehun memang luar biasa. Hidupku akan terjamin jika menikah dengannya, hihi. Aku merebahkan diri ke kasur, rasanya sangat empuk dan nyaman. Ah, sepertinya aku akan betah tinggal di sini.

 

TOK TOK TOK

 

‘Siapa sih yang mengetuk pintu, aku baru saja ingin istirahat’ rutukku kesal.

 

“Ada apa Eommonim?” tanyaku, setelah melihat orang yang mengetuk pintu ternyata eommonim. Ada urusan apa dia ke kamarku?

 

“Jiyeon-ah, orang tua sudah pulang barusan karena Ayahmu ada urusan mendadak jadi tidak pamit dulu padamu. Mm Jiyeon-ah, kau kan baru saja pindah kemari dan baju-bajumu juga belum sempat dibawa ke sini. Pasti kau ingin mandi dan istirahat, kau tapi tidak mungkinkan tidur menggunakan seragammu. Lebih baik kau pinjam saja piyama Sehun ne? Itu saja yang ingin Eommonim sampaikan, selamat beristirahat,” ujar eommonim.

 

“Ah ne Eommonim, aku akan meminjam piyama Sehun nanti,” jawabku.

 

Setelah itu Eommonim berjalan meninggalkan kamarku. Yang benar saja, aku disuruh memakai baju Sehun. Memang dia mau meminjamkannya untukku apa? Ah tapi yang dikatakan Eommonim memang benar, aku tidak mungkin tidur menggunakan seragam lebih baik aku pinjam Sehun saja.

 

***

 

Sehun POV

 

Ah, tubuhku rasanya lelah sekali. Sehabis mengantarkan Jiyeon aku langsung menuju kamarku. Aku merebahkan diriku sejenak di atas kasur. Setelah rasa lelahku agak berkurang, aku langsung mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi karena tubuhku lengket sekali.

 

Setelah kurasa badanku cukup segar aku langsung memakai handukku dan berjalan keluar. Saat aku berjalan ke luar tiba-tiba aku melihat Jiyeon sudah ada di dalam kamarku dan berdiri di dekat ranjang. Matanya terbelalak melihatku yang hanya memakai handuk. Aku langsung berlari menghampirinya dan membekap mulutnya yang siap untuk berteriak.

 

“Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa masuk ke kamar orang seenaknya?” tanyaku pelan dan memberikan isyarat padanya agar tidak berteriak.

 

“A aku ke sini di suruh Ibumu untuk meminjam piyamamu karena aku tidak membawa baju. Lagipula tadi aku sudah mengetuk pintu hingga beberapa kali tapi tidak ada jawaban, jadi aku langsung masuk saja mian,” jawabnya agak gelagapan sambil menundukkan kepalanya tak berani untuk melihatku.

 

“Tadi aku sedang mandi, jadi tidak mendengar suara ketukan pintu. Yasudah kau duduk dulu di kasurku aku ingin memakai bajuku dulu baru aku akan meminjamkanmu baju,” ucapku.

 

Perlahan aku menuju lemariku dan mencari baju untuk ku pakai. Setelah aku mendapatkannya—baju- aku berjalan ke kamar mandi karena aku tidak mungkin memakai baju di hadapannya. Yang ada nanti dia akan menjerit dan membuat seisi rumah ini heboh. Setelah aku memakai baju aku segera keluar dan mencarikan baju yang bisa dipakai Jiyeon.

 

“Hanya ini baju yang ukurannya kecil, tidak apakan?” tanyaku sambil menyerahkan piyama bergambar Doraemon yang sudah lama sekali tidak pernah ku pakai.

 

“Kau pernah memakai piyama ini? Hahaha, tidak kusangka kau memakai piyama bergambar Doraemon,” ucapnya sambil tertawa.

 

“Wae? Memang hanya perempuan saja yang boleh memakai piyama bergambar Doraemon? Awas kalau kau memberitahu anak-anak di sekolah, aku akan membunuhmu” ucapku. Agak malu juga sih, ketahuan memakai piyama bergambar Doraemon itu.

 

“Aku hanya tidak menyangka saja. Apa kau begitu takut aku akan memberitahukan hal ini kepada anak-anak yang lain? Baiklah, aku tidak akan memberitahukan hal memalukan ini pada yang lain. Aku pinjam dulu ne?” ujarnya dengan nada yang sedikit mengejekku.

 

“Kenapa kau masih di sini, sudah kembali ke kamarmu sana. Apa kau ingin tidur bersamaku malam ini?” tanyaku menggodanya. Aku mengedipkan sebelah mataku dan berjalan ke arahnya lalu merangkul pundaknya.

 

“Ya! Siapa juga yang ingin tidur denganmu, aku pergi dulu,” ucapnya langsung berlari ke luar. Wajahnya lucu sekali, aku jadi senang menggodanya terus haha.

 

***

 

Author POV

 

Pagi harinya Sehun dan Jiyeon sudah bersiap ke sekolah di kamar mereka masing-masing. Mereka keluar kamar secara bersamaan dan keduanya langsung turun ke bawah menuju meja makan. Setelah selesai sarapan, mereka bergegas untuk ke sekolah. Tapi ketika hendak ke luar mereka ditahan oleh Ibu Sehun.

 

“Ada apa Eomma?” tanya Sehun.

 

“Karena kalian sudah tinggal satu rumah bagaimana kalau berangkat dan pulang sekolah kalian bersama? Lagipula bahaya bagi Jiyeon jika pulang sendirian. Ini perintah kalian harus menurutinya. Sudah berangkat sana, nanti kalian terlambat,” ujar eomma Sehun.

 

“Aish, ne ne baiklah. Kalau begitu kami berangkat dulu,” ucap Sehun dan berjalan enuju mobilnya.

 

“Kalau begitu kami pergi dulu Eommonim, annyeong,” pamit Jiyeon setelah mobil Sehun di hadapannya.

 

“Ne, hati-hati di jalan,” ucap Ibu Sehun.

 

Mobil Sehun pun melesat dengan cepat menuju sekolah. Mobil Sehun akhirnya tiba di sekolah dan menuju tempat parkir. Dan mereka segera keluar dari mobil dan menuju gedung sekolah untuk mencapai kelas mereka.

 

“Ya! Han Soyi, bukankah itu Sehun? Wah dia berangkat ke sekolah bersama Jiyeon. Ada hubungan apa mereka berdua?” tanya salah satu teman dari perempuan bernama Soyi sambil menunjuk ke arah Sehun dan Jiyeon.

 

“Lagi-lagi Park Jiyeon, aku juga melihat mereka pulang bersama kemarin,” ujar Soyi sambil mengepalkan tangannya.

 

“Bukankah kau menyukai Sehun? Sepertinya kau memiliki saingan,” ujar temannya yang lain.

 

“Kurasa aku harus memberinya peringatan, kalian mau membantuku kan?”

 

“Tentu, dengan senang hati,” ujar kedua temannya dan mereka pun segera meninggalkan tempat parkir.

 

Sehun dan Jiyeon sudah tiba di kelas mereka. Tidak lama setelah itu Han Soyi bersama kedua temannya pun tiba di kelas. Soyi langsung menghampiri Sehun dan memberikannya minuman.

 

“Apa ini? Aku sedang tidak haus, cepet ambil,” ujar Sehun dingin.

 

“Aish Sehun-ah, kau tidak boleh menolak pemberianku terima saja. Oh ya pulang sekolah nanti kau bersamaku ya? Kemarinkan kita tidak jadi pulang bersama,” ucap Soyi manja sambil menggelayut di lengan Sehun.

 

“Ani, aku tidak bisa pulang bersamamu aku akan pulang bersama orang lain,” ujar Sehun sambil melirik ke arah Jiyeon yang sedang bicara dengan Sulli.

 

“Kenapa tidak bisa terus, memang kau akan pulang dengan siapa?” tanya Soyi padahal dalam hati dia sudah mengira Sehun akan pulang bersama Jiyeon—lagi.

 

“Bukan urusanmu, cepat kembali ke tempatmu sana!” ujar Sehun sambil melepaskan pegangan tangan Soyi di lengannya. Soyi pun segera kembali ke tempatnya dengan mulut komat-kamit karena kesal dengan perlakuan Sehun.

 

Waktu berjalan tanpa terasa dan waktu yang dinanti-nanti para siswa pun akhirnya tiba. Istirahat. Mereka segera berhamburan ke luar kelas untuk menuju satu tujuan yaitu kantin. Saat Jiyeon berjalan melewati kursi kakinya tersandung sesuatu dan akhirnya dia mendarat dengan sukses di lantai. Jiyeon pun mengaduh kesakitan.

 

“Ah mianhae Jiyeon-ah, aku tidak sengaja,” ucap Soyi sambil memandang Jiyeon dengan sinis dan berlalu ke luar kelas bersama kedua chingunya.

 

“Jiyeon-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Sulli khawatir sambil membantu Jiyeon berdiri.

 

“Ne, aku tidak apa-apa Sulli-ah,” jawa Jiyeon sambil tersenyum.

 

“Ada apa dengannya, kenapa dia melihatmu seperti itu?” tanya Sulli heran.

 

“Sudahlah biarkan saja. Ayo kita ke kantin, bukankah kau sudah sangat lapar?” ujar Jiyeon. Taemin tiba di kelas mereka dan ke kantin bersama seperti biasa. Ternyata ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian tadi dalam diam—Sehun. Dia menatap kepergian Jiyeon dengan pandangan yang sulit diartikan. Tidak lama setelah itu dia pun menyusul pergi ke kantin bersama dengan Kai.

 

Setelah para murid telah mengenyangkan perut masing-masing mereka membubarkan diri menuju kelas masing-masing karena bel pertanda akan kembali dimulainya pelajaran sudah berbunyi. Mereka mendengarkan materi-materi pelajaran dengan malas dan mata yang mengantuk. Bahkan ada yang sudah tertidur dengan damai. Pelajaran terakhir berjalan dengan begitu lama dan membuat  para murid kesal karena bel pulang tidak kunjung berbunyi.

 

Akhirnya setelah penantian yang cukup panjang bel yang sudah mereka nanti-nanti mengeluarkan bunyinya membuat para siswa kegirangan dan segera membereskan buku mereka dan langsung melesat ke luar kelas begitu saja. Taemin sudah menunggu Sulli dan Jiyeon untuk pulang bersama di depan kelas.

 

“Mianhae Sulli-ah, Taemin-ah, aku tidak bisa pulang bersama kalian karena aku akan pulang bersama Sehun. Kalian berdua saja tidak apakan?” ucap Jiyeon.

 

“Baiklah kalau begitu, kami akan pulang berdua. Tidak apakan Taemin?” tanya Sulli pada Taemin karena dia terus diam dan hanya memandangi Jiyeon.

 

“Ne, tidak apa-apa,” ucap Taemin disertai senyum yang sangat dipaksakan. Entah kenapa dia tidak rela Jiyeon pulang bersama Sehun. Ada perasaan aneh—sakit yang perlahan memasuki hatinya. Entah kenapa dia merasakan sakit di hatinya karena melihat Jiyeon dan Sehun semakin dekat. Bahkan ditambah dengan kenyataan Jiyeon dan Sehun dijodohkan dan akan segera menikah menambah sakit di hatinya. Ia menampik jauh-jauh perasaan itu karena ia dan Jiyoen sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku pertama jenjang SMA.

 

Dan Sehun pun akhirnya ke luar dari kelas dan berpapasan dengan Jiyeon, Sulli dan Taemin. Ia hanya tersenyum tipis kepada mereka dan memberikan isyarat kepada Jiyeon agar ia mengikutinya.

 

“Sehun-ah, kau tunggu di parkiran dulu ne? Aku ingin ke toilet sebentar,” ucap Jiyoen dan Sehun hanya mengangguk saja.

 

“Kau juga Taemin-ah, tunggu di paarkiran ne? Aku akan menemani Jiyeon,” ucap Sulli dan Taemin pun ikut-ikutan dengan menganggukkan kepalanya.

 

Jiyeon dan Sulli segera meninggalkan mereka berdua dan pergi menuju toilet. Sehun dan Taemin brjalan beriringan untuk menuju tempat parkir dalam keadaan diam. Sepertinya keduanya enggan untuk berbicara satu sama lain.

 

“Jiyeon-ah, aku ke perpustakaan dulu ne? Ada buku yang ingin ku kembalikan, kau tidak apakan ku tinggal?” Tanya Sulli.

 

“Ne, aku akan baik-baik saja. Pergilah,” ucap Jiyeon. Sulli pun berjalan menjauh meninggalkan Jiyeon untuk ke perpustakaan.

 

Ada tiga orang perempuan yang sejak tadi memandang ke arah Jiyeon. Setelah melihat kepergian Sulli mereka bertiga langsung berlari ke arah toilet dan masuk ke dalam. Salah satu dari mereka mengedor-gedor pintu yang di dalamnya terdapat Jiyeon.

 

“Ya! Keluar kau Park Jiyeon, buka pintunya!” ucap perempuan tersebut.

 

“Nugu?”

 

“Sudah jangan banyak tanya, cepat keluar!” ucap perempuan itu lagi.

 

“Ne, tunggu sebentar,” ucap Jiyeon sambil merapikan seragamnya.

 

“Arrgghh… Apa yang kalian lakukan?” tanya Jiyeon karena saat dia keluar perempuan itu langsung menarik rambutnya dibantu dengan teman-temannya.

 

“Kau pikir apa? Aku ingin memberi peringatan padamu supaya kau tidak dekat-dekat lagi dengan Sehun. Dasar perempuan centil! Awas kalau aku melihatmu bersama Sehun lagi. Aku akan melakukan hal yang lebih menyakitkan daripada ini!” ujar perempuan tersebut dan langsung pergi meninggalkan toilet setelah mendorong Jiyeon hingga terjatuh.

 

Jiyeon meringis kesakitan pada rambut dan bokongnya yang terjatuh akibat ulah perempuan tadi. Jiyeon tidak menyangka sebelumnya akan terjadi hal seperti ini. Karena ini adalah kali pertamanya diperlakukan seperti itu. Jiyeon buru-buru bangkit dan merapikan rambutnya kembali sebelum Sulli datang karena ia tidak ingin Sulli mengkhawatirkan dirinya.

 

 

 

_My Marriage Is_

TBC

 

191 Comments

Comment, comment~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s