[1st Scene] My Marriage is …

| Tittle My Marriage is … Part 1 | Author Yaumila |

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Lee Taemin  – Han Soyi (OC) – Choi Sulli – And other’s |

| Rating PG | Genre Shool Life, Marriage Life | Length Main Chapter |

Poster by : ©Mekeyworld

 

Disclaimer :

Para tokoh yang ada di FF ini milik Tuhan. Cerita ini murni hasil imajinasi saya.

.

.

.

 

Jiyeon POV

 

“Mwooo??? Appa serius dengan perkataan Appa? Tapi aku kan masih sekolah,” ujarku kaget setelah mendengar perkataan appa tadi.

 

“Ne Appa sangat serius Jiyeon-ah, karena Appa sudah terlanjur berjanji dengan teman Appa untuk menjodohkanmu dengan putra mereka. Dan masalah sekolahmu kau tidak perlu mengkhawatirkannya Jiyeon-ah, karena kau masih bisa melanjutkan sekolahmu setelah menikah,” jawab Appa panjang lebar.

 

“Tapi aku tidak ingin dijodohkan Appa. Lagipula kami kan tidak mengenal satu sama lain,” ujarku lirih.

“Appa mohon tolong terima pejodohan ini Jiyeon-ah, karena Appa sudah berjanji akan membantu mengubah sikap nakal anak mereka yaitu dengan cara menjodohkanmu. Kalian pasti akan saling mengenal dengan baik,” ucap Appa menyakinkanku.

 

“Tapi tidak harus sampai menikahkanku dengan anaknya kan Appa?” aku mencoba menolak perjodohan ini.

 

“Tapi teman Appa ingin menikahkanmu dengan putra mereka agar kau bisa lebih leluasa dalam mengontrol sikapnya Jiyeon-ah. Kau tau putra mereka itu suka pergi ke club malam dan senang bermain yeoja. Keluarga mereka sudah terlalu baik kepada kita Jiyeon-ah. Appa rasa ini waktu yang tepat untuk membalas kebaikan mereka,” ucap Appa mencoba menjelaskan.

 

“Bagaimana jika aku tidak mengubah sikapnya?” tanyaku.

 

“Appa yakin kau bisa Jiyeon-ah, karena kau adalah anak Appa,” ujarnya meyakinkanku.

 

Aku menatap Eomma berharap ia akan membelaku. Tapi sepertinya Eomma ingin aku menyetujui perjodohan ini.

 

“Ne Appa, aku akan mencobanya,” ucapku lemas.

 

“Gomawo Jiyeon-ah, karena kau sudah mengerti,” jawab Appa dan Eomma bersamaan sambil menyunggingkan senyuman. Aku hanya menganggukkan kepalaku.

 

“Oh iya Jiyeon-ah, kita akan bertemu dengan keluarga teman Appa besok malam,” ucap Appa menambahkan saat aku berjalan menaiki tangga menuju kamarku.

 

“Ne Appa, aku tidak akan lupa” jawabku lalu kembali melangkahkan kakiku menuju kamar.

 

Sesampainya di kamar aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur. Kenapa hal ini terjadi padaku? Aku belum lulus sekolah SMA bahkan aku baru kelas 2. Aku bahkan tidak tau teman yang dimaksud oleh Appa. Aku baru akan mengetahuinya saat pertemuan besok malam. Memikirkan hal ini membuatku pusing. Lebih baik aku tidur.

 

***

 

Sehun POV

 

Aku benar-benar terkejut dengan perkataan Appa. Apa dia bilang? Dia akan menjodohkanku dengan putri temannya dengan alasan ingin merubah sikap burukku? Sungguh alasan yang sangat konyol dan tidak masuk akal.

 

Aku sudah berusaha mati-matian menolak keinginan Appa. Tapi Appa tetap bersikeras ingin menjodohkanku bahkan Eomma menyuruhku untuk mengikuti kemauan appa kali ini saja. Akhirnya aku menerima perjodohan ini karena Appa mengancam akan menarik seluruh fasilitas yang kumiliki jika aku menolak rencanaya.

 

Aku tidak habis pikir kenapa Appa sampai melakukan hal itu. Bahkan kami akan bertemu dengan keluarga teman Appa beserta putri mereka besok malam. Aku merebahkan diriku di kasur dan berharap ini hanya mimpi saat aku bangun nanti.

 

***

 

Author POV

 

Keesokan harinya keluarga Jiyeon dan Sehun masing-masing menyiapkan diri untuk bertemu di tempat yang telah mereka rencanakan.

 

Dan yang sampai terlebih dahulu ke tempat tujuan adalah keluarga Jiyeon. Mereka langsung duduk di tempat yang telah disediakan.

 

‘Aku sangat tegang menunggu kedatangan keluarga mereka’ ujar Jiyeon dalam hati.

Dan tidak lama kemudian akhirnya keluarga yang dinanti-nanti tiba.

 

“Annyeong semuanya, maaf membuat kalian menunggu lama. Kami terjebak macet saat dalam perjalanan” ujar Tuan Oh meminta maaf pada keluarga yang ada di hadapannya.

 

“Tidak apa-apa Tuan Oh, lagi pula kami juga baru tiba di sini” jawab Tuan Park.

 

“Mari silahkan duduk” ucap Ny. Park sambil tersenyum ramah.

 

“Ah, kamsahamnida” jawab Ny. Oh sambil membalas senyum Ny. Park.

 

Sehun dan Jiyeon hanya berdiam diri. Sehun melirik sekilas ke arah Jiyeon lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Jiyeon.

 

‘Jadi ini yeoja yang akan dijodohkan denganku’ ujar Sehun dalam hatinya.

 

“Aigoo, putri kalian cantik sekali. Kami tidak akan menyesal menjodohkan Sehun dengan Jiyeon” acap Ny. Oh sambil tersenyum ke arah Jiyeon.

 

“Kamsahamnida Ahjumma” jawab Jiyeon sambil membungkukkan badan.

 

“Tentu saja, aku tidak pernah salah dalam memilih wanita baik untukku ataupun untuk putraku” acap Tuan Oh sambil tertawa. Semua yang ada di sana tertawa kecuali Sehun sedangkan Jiyeon hanya tersenyum tipis.

 

‘Pria ini dari tadi tidak menunjukkan ekspresi apapun selain wajah datarnya. Sepertinya dia tidak menyetujui perjodohan ini’ ucap Jiyeon dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Sehun yang hanya terdiam.

 

“Baik ku rasa kalian semua sudah tahu maksud diadakannya pertemuan ini. Kami akan memberikan Sehun dan Jiyeon waktu untuk berdua agar lebih saling mengenal. Sementara kami keluar untuk membicarakan rencana pernikahan kalian,” ujar Tuan Oh.

 

“Ku rasa itu ide yang bagus. Baiklah kami akan meninggalkan kalian berdua untuk saling mengenal satu sama lain,” ujar Tuan Park menyetujui usul dari Tuan Oh. Akhirnya mereka keluar dan meninggalkan Sehun dan Jiyeon berdua.

 

***

 

Jiyeon POV

 

Kini hanya tinggal kami berdua di ruang khusus yang ada dalam restoran yang telah dipesan oleh Ahjussi. Dan ku lihat sepertinya pria yang ada di hadapanku ini tidak akan memulai pembicaraan. Jadi kuputuskan untuk memakan makanan yang tadi sudah di pesan oleh Eommaku sebelumnya.

 

“Kau tidak makan?” tanyaku mencoba memulai percakapan.

 

“Ani., cepat habiskan makananmu lalu kita pulang,” jawabnya dingin.

 

“Eoh?”

 

“Wae?” tanyanya sambil menatapku tajam.

 

“Ah ani,” jawabku. Lalu aku melanjutkan makanku. Bagaimana caraku untuk mengubah sikapnya jika ia seperti ini? Sepertinya ini akan sulit bagiku. Aku hanya menghela napas panjang.

 

Setelah aku selesai makan kami berjalan ke luar restoran dan menuju tempat parkir. Sehun langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya sementara aku hanya berdiri di samping mobilnya.

 

“Kenapa kau berdiri di sana, apa kau tidak ingin pulang? Cepat masuk!” ujarnya galak. Aku hanya menurut dan masuk ke dalam mobil.

 

Aku memandang ke arah jendela sementara ia fokus menatap jalanan di hadapannya. Kami hanya diam di dalam mobil. Aku tidak berani mengajaknya bicara karena sepertinya dia tidak suka aku melakukan hal itu.

 

“Apa kau menerima perjodohan ini?” tanyanya. Aku menoleh mendengar pertanyaannya.

 

“Entahlah, mau tidak mau aku menerimanya karena aku tidak bisa menolak ke inginan orang tuaku” jawabku jujur.

 

“Kenapa kau tidak menolaknya?! Kau tau aku tidak suka dan tidak setuju dengan perjodohan ini!” ujarnya penuh emosi.

 

“Kau pikir hanya kau yang tidak menyetujuinya! Aku sudah berusaha menolak tapi orang tuaku memaksa. Aku bisa apa?” jawabku membela diri. Kenapa dia malah memarahiku. Lagi pula perjodohan ini terjadi karena permintaan appanya bukan aku yang meminta.

 

“Kenapa nasibku sial sekali! Dan terlebih lagi kenapa aku dijodohkan denganmu? Apa tidak ada perempuan yang lebih baik darimu? Aish!”

 

“Mwo??” aku terkejut mendengar ucapannya enak sekali dia berbicara seperti itu.

 

“Ya! Kau pikir aku suka dijodohkan dengan anak nakal sepertimu? Lagi pula ini salahmu sendiri. Ini tidak akan terjadi jika kau bersikap baik! Kau tau aku dijodohkan denganmu agar aku bisa mengubah semua sikap burukmu dan kurasa itu mustahil!” ujarku penuh emosi karena aku tidak terima dia berbicara seperti itu padaku.

 

Sehun POV

 

“Ya! Kau pikir aku suka dijodohkan dengan anak nakal sepertimu? Lagi pula ini salahmu sendiri. Ini tidak akan terjadi jika kau bersikap baik! Kau tau aku dijodohkan denganmu agar aku bisa mengubah semua sikap burukmu dan kurasa itu mustahil!”

 

Aku langsung menepikan mobilku ke tepi jalan setelah mendengar ucapannya. Aku tidak menyangka dia berani berbicara seperti itu padaku.

 

“Turun!” ucapku sambil menatapnya tajam.

 

“Mwo??” dia terlihat sangat terkejut dengan ucapanku barusan.

 

“Apa kau tuli? Cepat turun dari mobilku sekarang!” ucapku kesal.

 

“Aku tidak keberatan jika kau tidak ingin mengantarku sampai rumah. Tapi jangan turunkan aku di tempat ini. Kau tau ini sangat sepi, aku pulang naik apa nanti?” tanyanya panik.

 

“Itu bukan urusanku. Terserah kau ingin pulang naik apa aku tidak akan peduli. Jadi cepat turun dari mobilku sekarang juga!” ucapku sedikit membentaknya. Dia diam sejenak lalu melepas selt belt yang ia pakai.

 

“Baiklah, aku akan turun di sini,” ia membuka pintu mobil dan keluar. Saat akan menutup pintu mobil ia menendangnya dengan sangat kencang. Aku sampai terkejut mendengarnya. Lalu aku mulai menjalankan mobilku dan meninggalkannya sendiri di tepi jalan.

 

Suasana di sepanjang jalan ini memang terlihat sangat sepi dan hanya diterangi beberapa lampu saja. Aku jadi sedikit kasihan terhadap perempuan itu. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu perempuan itu di persimpangan jalan yang tidak jauh dari tempat aku menurunkannya.

 

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya perempuan itu muncul. Aku tidak menyangka ia akan berjalan kaki. Kenapa ia tidak meminta jemput saja pada orang tua atau temannya? Kasihan juga melihatnya terus berjalan apalagi dia menggunakan sepatu high hills. Pasti kakinya sakit jika harus berjalan sampai halte bus karena jaraknya lumayan jauh dari sini. Tapi apa peduliku? Aku biarkan saja dia berjalan kaki dan aku kembali melajukan mobilku.

 

 

Author POV

 

Akhirnya Jiyeon terus berjalan agar sampai ke halte bus. Ia berjalan terseok-seok karena kakinya  lecet. Kemudian ia melepas sepatu high hillsnya berharap bisa mengurangi rasa sakit pada kakinya. Jiyeon benar-benar tidak menyangka Sehun menurunkannya di tepi jalan.

 

Setelah tiba di halte ia duduk sejenak hingga bus tiba. Ia berusaha menahan tangisnya sebisa mungkin. Ia tidak menyangka Sehun sekejam itu padanya.

 

‘Kau adalah perempuan kuat Park Jiyeon, jangan menangis hanya karena masalah sepele seperti ini!’ ucap Jiyeon dalam hati.

 

Kemudian Jiyeon menaiki bus yang berhenti di hadapannya. Ia terlalu lelah karena sudah berjalan cukup jauh dan memutuskan untuk tidur. Bus berhenti di halte terakhir. Jiyeon bangun dan segera turun dari bus. Penderitaannya belum berakhir karena ia harus berjalan kaki agar bisa sampai ke rumahnya. Ia menghela napas panjang dan mulai berjalan lagi. Setibanya di rumah ia langsung naik ke atas menuju kamarnya dan ingin segera tidur untuk melepas lelahnya.

 

“Jiyeon-ah kau sudah pulang. Bagaimana kencanmu dengan Sehun? Kau pasti senang bisa mengenalnya kan?” tanya eomma Jiyeon.

 

‘Mwo kencan apanya? Aku sama sekali tidak senang. Dia pria sialan yang menurunkanku di tepi jalan eomma’ rutuk Jiyeon dalam hati.

 

“Lain kali saja kuceritakan. Aku ingin istirahat dan tidur Eomma” jawab Jiyeon lemas.

 

“Baiklah, kalau begitu istirahatlah. Besok kau harus sekolah jangan sampai kau kesiangan” kata Eomma Jiyeon.

 

“Ne Eomma,” Jiyeon masuk ke dalam kamar dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur.

 

‘Dasar pria sialan! Semoga aku tidak bertemu lagi dengannya’ ujar Jiyeon sebelum akhirnya ia tertidur.

 

***

 

“Jiyeon-ah cepat turun, kita sarapan bersama.”

 

“ Ne Eomma, sebentar lagi aku turun,” jawab Jiyeon sambil merapikan seragamnya. Setelah ia merasa sudah rapi ia turun ke bawah dan langsung menuju meja makan.

 

“Ayo cepat habiskan sarapanmu, Appa akan mengantarmu ke sekolah,” perintah appa Jiyeon.

 

“Ne Appa,” jawab Jiyeon dan langsung menghabiskan sarapannya.

 

“Belajar yang baik ya Jiyeon-ah,” ujar Appa Jiyeon setelah tiba di depan sekolah Jiyeon –Jerin High School-.

 

“Ne Appa, tentu saja aku akan belajar dengan baik,” jawab Jiyeon lantang. Appanya hanya tertawa mendengar jawaban dari Jiyeon.

 

Jiyeon berjalan menyusuri koridor untuk mencapai kelasnya. Kakinya masih terasa sakit akibat kejadian semalam. Sesampainya di kelas ia langsung di sambut oleh Sulli sahabatnya.

 

“Annyeong Yeonnie, kenapa kau jalan seperti itu? Apa kakimu sedang sakit?” tanya Sulli karena ia heran dengan cara berjalan Jiyeon yang tidak seperti biasanya.

 

“Ceritanya panjang Sulli-ah, nanti aku akan ceritakan padamu,” jawab Jiyeon.

 

Saat Sulli hendak menjawab perkataan Jiyeon bel masuk berbunyi dan Jung seonsangnim langsung masuk ke kelas. Sulii hanya mendengus kesal.

 

“Annyeong anak-anak. Hari ini kita kedatangan murid baru, tolong sambut dia dengan baik,” ucap seonsangnim.

 

“Ne, seonsangnim,” jawab para murid kompak.

 

“Silahkan masuk dan perkenalkan dirimu,” perintah seonsangnim kepada murid baru tersebut.

 

Seketika itu juga wajah Jiyeon langsung berubah karena terlalu terkejut melihat murid baru tersebut.

 

‘Oh Tuhan kenapa ia harus pindah ke sekolahku? Bahkan kami satu kelas..’ ucap Jiyeon lirih dalam hati.

 

“Annyeonghaseyo choneun …………..”

 

 

 

_My Marriage Is_

TBC

190 Comments

  1. pertemuan pertma kali kyak mau tonjok2kan, sekrang sekelas, aku baca chapter selajutnya lgi ya, penasaran merka bkal kyak apa nanti hehehe

    Like

    Reply

Comment, comment~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s